1 liter Bensin Untuk Kebaikan

Posted by Monsign Kamis, 13 Maret 2014 0 komentar


Ardi melihat heran dengan pemandangan yang ada didepannya. Ardi melihat seorang wanita paruh baya sedang mendorong motornya di pinggir jalan. Tapi Ardi saat itu sedang terburu-buru melaju dengan motornya untuk memenuhi jadwal ujian skripsinya. Ardi hanya mengamati dengan sekilas kondisi ban motor itu dalam keadaan normal. 

"Ah, paling juga kehabisan bensin", pikirnya. Ardi pun melewati wanita paruh baya itu tanpa mengurangi kecepatan motornya. Namun, hatinya tiba-tiba merasa iba ketika Ardi melihat melalui kaca spion, wanita paruh baya itu dengan susah payahnya mendorong motornya. Ardi teringat akan ibunya di kampung halaman.

"Pom bensin kan masih jauh dari sini, Ibu itu pasti kecapekan nanti", kata hati Ardi. Meski sebagian hati Ardi mengatakan untuk tidak mempedulikan wanita paruh baya itu dan mementingkan urusan pribadinya dulu, ternyata rasa ibanya kepada orang lain lebih besar dari pada perasaan egoisnya.

Ardi pun memperlambat motornya dan berbalik arah menghampiri wanita paruh baya itu.

"Ibu, ada yang bisa saya bantu", sapa Ardi.

Wanita paruh baya itu pun melihat dengan perasaan lega setelah ada orang yang peduli dengannya, "kehabisan bensin nak ....", jawabnya.

Ardi pun melihat-lihat sekitar berharap matanya menemukan pedagang bensin eceran di sekitar situ. Padahal, jalanan itu sangat ramai, namun tidak ada seorang pun disana yang berpikir untuk mengais rejeki menjadi pedagang bensin eceran.

"Ibu tunggu di sini ya, saya carikan bensin dulu nanti saya kembali ...", tegas Ardi. 

Tanpa pikir panjang Ardi melaju motornya dengan kecepatan tinggi untuk mencari pedagang bensin eceran terdekat. Ardi berharap juga dia masih sempat bemenuhi jadwal ujian skripsinya tanpa telat. Namun harapannya itu berubah menjadi kecemasan setelah Ardi melaju motornya cukup jauh belum ketemu juga pedagang bensin eceran. Sempat terpikir olehnya untuk mengingkari saja janjinya kepada wanita paruh baya itu dan mementingkan urusan pribadinya lebih dulu, namun niat itu seketika Ardi urungkan setelah Ardi melihat pedagang bensin eceran di depannya.

Ardi pun segera memesan 1 liter bensin kepada pedagang bensin eceran itu. Namun yang menjadi masalah lagi, Ardi lupa jika uang di dompetnya hanya tinggal 5 ribu rupiah saja, hanya cukup untuk membeli 1 liter bensin aja, setelah itu dompetnya kosong melompong.

"Apa uang ini nanti diganti ya ...", pikirnya, "... ah sudahlah, nanti aku minta ganti aja ke Ibu itu, kan itu hak ku, kalo uang ini habis aku bisa ga makan hari ini ..."

Ardi pun kembali kepada wanita paruh baya tadi. Ardi sadar bahwa harapannya untuk memenuhi jadwal ujian skripsinya tanpa telat sudah tidak mungkin lagi, namun rasa cemasnya itu sedikit terbayar dengan senyum lega wanita paruh baya itu yang menyambut kedatangan Ardi.

Ardi pun segera menuangkan bensin ke motor wanita paruh baya itu dan membantunya menyalakan motornya.

"Nah, sudah Ibu ..", kata Ardi.

Ardi berharap wanita paruh baya itu sadar dengan sendirinya bahwa uang yang di pakai untuk membeli bensin tadi adalah uang milik Ardi. Ardi menunggu reaksi dari wanita paruh baya itu mengembalikan uang miliknya, namun setelah beberapa saat reaksi yang di tunggu itu kok tidak muncul-muncul juga.

Wanita paruh baya itu pun terlihat menunduk malu-malu sambil berusaha bicara dengan nada sungkan, "maaf ya nak, sebenarnya dompet Ibu juga ketinggalan di rumah ...."

"Haaaaaahhhhh .....", teriak Ardi dalam hati. Ardi sedikit dongkol dengan apa yang dialaminya ini, namun karena kebaikan hatinya, Ardi berusaha menutupi kedongkolannya itu.

"Akh, ga apa-apa Ibu, saya ikhlas kok menolong, silakan ibu melanjutkan perjalanan dan hati-hati di jalan", kata Ardi berlagak sok pahlawan namun dalam hatinya Ardi menangis membayangkan hari ini perutnya bakal kelaparan.

Wanita paruh baya itu kagum dengan kebaikan Ardi. Setelah berterimakasih, wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan Ardi yang sebenarnya hatinya dalam keadaan kalut dengan apa yang akan menimpa dirinya selanjutnya.

Terang saja, Ardi terlambat memenuhi jadwal ujian skripsinya. Dosen penguji kecewa dengan ketidakdisiplinan Ardi, dan mereka tidak menerima alasan apapun. Ardi ditolak oleh dosen penguji untuk ujian skripsi dan ditangguhkan sampai jadwal ujian skripsi selanjutnya. Dunia Ardi pun terasa hancur saat itu. 

Ardi merasa kecewa dengan keadaannya itu, terlebih lagi Ardi harus berpuasa hari itu karena uang di dompetnya sudah tidak ada lagi. Ardi pun mengutuk kesialannya hari itu, Ardi mengutuk wanita yang ditolongnya, Ardi mengutuk pedagang bensin eceran, dan Ardi mengutuk semua orang yang tidak peduli dengan kesusahan orang lain. Seandainya hari itu Ardi tidak menjadi orang yang baik hati, mungkin hidupnya lebih bahagia dari keadaannya sekarang.

Setelah beberapa bulan, akhirnya Ardi lulus kuliah. Memang perjalanan memperoleh gelar sarjananya itu tidak semulus yang Ardi pikirkan setelah dia di blacklist oleh dosen pengujinya terdahalu yang menganggap Ardi adalah orang yang tidak bertanggungjawab dan kurang disiplin. Namun perjuangannya untuk meyakinkan dosen punguji meski memakan waktu berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil.

Selanjutnya, setelah lulus kuliah, tantangan berikutnya adalah memasuki dunia kerja. Ternyata mencari pekerjaan itu tidak semudah yang ada di pikiran Ardi ketika kuliah dulu. Ardi harus bersaing dengan ribuan Sarjana di luar sana yang mempunyai tujuan yang sama dengannya. Telah beberapa kali Ardi mencoba memasuki perusahaan-perusahaan yang dilamarnya, namun kebanyakan dia gagal di tahap wawancara, entah mungkin Ardi kalah bersaing dengan sarjana-sarjana lain atau mungkin Ardi kurang cakap dalam melakukan wawancara yang mengesankan.

Suatu ketika Ardi kembali menghadiri tes wawancara kerja dengan salah satu perusahaan produksi multinasional yang cukup besar. Dia cukup heran ketika mununggu di ruang tunggu perusahaan itu. Biasanya undangan wawancara itu dihadiri oleh beberapa calon karyawan untuk kemudian di panggil satu per satu. Namun saat itu, Ardi hanya sendirian dan receptionist yang mengantarkan dia ke ruang tunggu itu sangat ramah dengan Ardi.

Setelah beberapa saat menunggu, Ardi pun di panggil memasuki ruang pimpinan untuk melakukan wawancara. Ardi memasuki ruangan, dia melihat sosok wanita karier di depannya berdiri di belakang mejanya dengan tersenyum mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

"Selamat Pagi, Ardi. Silakan duduk", sapa wanita itu dengan ramah.

"Pagi Ibu. Terima kasih", jawab Ardi dengan perasaan sedikit grogi.

"Saya senang kamu melamar di perusahaan ini ...", kata wanita itu, "perusahaan ini butuh orang yang baik seperti kamu ..."

Ardi sedikit bingung dengan perkataan wanita dihadapannya itu. Ardi berusaha mencerna apa yang didengarnya itu. "Kok Ibu ini tiba-tiba menyimpulkan aku ini orang baik .... ??", pikirnya.

Wanita itu tersenyum dan melanjutkan perkataannya, "Perusahaan yang saya bangun ini berkembang cukup pesat, bahkan diluar prediksi saya, ya, saya bersyukur perusahaan ini menjelma menjadi perusahaan yang besar sekarang dan ini membuat saya benar-benar sangat berterima kasih kepada Tuhan karena memberi saya kepercayaan dan kesempatan untuk mengelola perusahaan ini"

Ardi masih bingung berusaha mencerna kemana arah pembicaraan ini.

Wanita itu pun melanjutkan, "Sekarang saatnya lah saya membalas semua kebaikan-kebaikan Tuhan selama ini kepada Saya. Namun kebaikan apa pun yang saya lakukan, saya rasa tidak akan cukup untuk membalas semua anugerah-Nya"

Ardi masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan itu, "mohon maaf Ibu jika pertanyaan saya lancang, sebenarnya apa yang ingin Ibu sampaikan kepada saya ...."

Wanita itu menatap Ardi dengan penuh antusias, "Ardi, saya ingin menyumbangkan beberapa persen laba dari perusahaan ini untuk membantu anak-anak yang menderita Leukemia di Indonesia, untuk itu saya mendirikan yayasan yang akan menampung semua aktivitas dari kegiatan sosial dari perusahaan ini. Saya butuh seseorang untuk mengelola yayasan saya itu dan saya butuh orang yang baik"

Ardi masih tetap merasa bingung dengan arah pembicaraan ini .....

Wanita itu melanjutkan perkataannya dengan tatapan meyakinkan Ardi, "Saya butuh orang baik seperti kamu Ardi".

Ardi bengong dengan perkataan wanita di hadapannya itu. Pikirannya masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sini .....

"Mohon maaf Ibu, saya masih belum mengerti, bagaimana Ibu bisa menyimpulkan jika saya ini orang yang cukup pantas mengelola yayasan Ibu?", kata Ardi.

Wanita itu pun tersenyum puas mendengar pertanyaan Ardi itu. 

"Kamu terima apa tidak tawaran ini?", lanjut wanita itu mengalihkan pembicaraan.

Ardi pun terkejut mendengar pertanyaan balik itu. Seluruh pembicaraan ini benar-benar di luar bayangan Ardi.

"Yaa .... saya terima Ibu ....", jawab Ardi sedikit ragu-ragu.

"Dengar Ardi, Saya tidak suka dengan orang yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan, jadi tolong jawab sekali lagi, kamu terima apa tidak tawaran ini?", timbal wanita itu dengan nada sedikit menggertak.

Kali ini, Ardi cukup tersentak mendengar ketegasan wanita di hadapannya itu. Ardi menarik nafas dalam-dalam meski masih dalam keadaan bingung, namun Ardi berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menetapkan keputusannya.

"Baik Ibu, Saya Terima Tawaran Ibu", kata Ardi kali ini dengan sangat tegas.

Wanita itu pun tersenyum senang, "Ok, Ardi terima kasih atas kerjasamanya, mulai besok kamu sudah mulai bisa bekerja di perusahaan ini, besok sekretaris saya yang akan menjelaskan semua pekerjaanmu. Sekarang, silakan beristirahat di rumah dan kita bertemu lagi besok"

Ardi masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, pikirannya masih terus berusaha keras mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dia berjalan menghampiri pintu keluar ruangan itu masih dengan rasa tidak percayanya.

"Oh iya Ardi, ....", tiba-tiba wanita itu memanggil Ardi kembali. Ardi berbalik memandang wanita itu dengan wajah penuh tanda tanya.

"Ngomong-ngomong, terima kasih ya atas uang bensin yang waktu itu, Anak saya di rumah sakit untuk dirawat karena pingsan akibat penyakit Leukemia-nya, saya kembali ke rumah mengambil dompet untuk menebus obat di Apotik, untunglah berkat kamu, anak saya belum terlambat ditangani", wanita itu tersenyum penuh terima kasih.

Ardi kembali berdiri bengong dan masih terus berusaha mencerna kata-kata wanita di hadapannya itu. Setelah cukup lama berusaha berpikir, ingatan Ardi tersadar ketika dia mengutuk hari sialnya dulu saat ujian skripsi dan dia ingat kembali dengan sangat jelas wajah wanita yang ada dihadapannya itu.

Dalam hati pun Ardi berteriak mewakili keterkejutannya, "Haaaaaahhhh ...".

 

Baca Selengkapnya ....

Cinta Dalam Botol Bekas

Posted by Monsign Selasa, 11 Maret 2014 0 komentar
Vika adalah seorang gadis yang mempunyai mimpi bertemu dengan pangeran cintanya. Vika baru lulus SMU dan sampai saat itu ia belum menemukan seorang lelaki pun yang cocok di hatinya. Dengan paras cantiknya, Vika sebenarnya cukup populer di sekolahnya. Tidak sedikit lelaki yang ingin dekat dengannya, namun Vika tidak tertarik pada beberapa lelaki yang mendekatinya tersebut.

Ketika itu Vika sedang merayakan pesta kelulusan SMU bersama teman-teman sekolahnya di Pantai Papuma Jember. Selayaknya anak muda, mereka bersenda gurau di tepi pantai menikmati kelulusannya menuju gerbang kedewasaan. Vika dan beberapa temannya berjalan menyusuri pantai sambil bercanda-canda.

Waktu asik-asiknya bercanda, pandangan Vika tertarik pada suatu benda yang terpendam di pasir putih. Ia mendekatinya untuk memastikan benda apa itu, ternyata sebuah botol kaca bekas dengan tutup kayu.

"Siapa neh yang buang sampah sembarangan", pikirnya. Kemudian ia melihat sekitar untuk mencari tempat sampah, namum tiba-tiba pikiran iseng datang dalam benaknya. Dia memandangi botol itu dan sebuah senyum iseng muncul dibibirnya.

Vika mengambil sehelai kertas dan pena di dalam tasnya. Kemudian dia menulis, "Siapapun cowok yang menemukan botol ini, Saya bersedia untuk menikahimu. Vika". Dia menggulung kertas itu dan memasukkannya dalam botol. Kemudian ia berjalan ke tepi pantai dan membuang botol itu ke laut lepas. Ia pun tersenyum merasa geli dengan keisengannya itu.

2 tahun kemudian, Vika telah kuliah di Universitas Jember. Saat-saat kuliah merupakan waktu yang sangat menyenangkan baginya. Karena di bangku kuliah itulah dia baru menemukan pangeran cintanya, tepatnya lelaki idamannya.

Namanya Herman, kakak angkatan Vika. Lelaki yang berperawakan gagah, tampan, dan selalu terlihat penuh antusias. Vika sangat mengagumi kakak angkatannya itu karena sikapnya yang selalu ramah kepada adik-adik angkatannya. Namun Herman pun ternyata adalah orang yang cukup populer di kampus, sehingga banyak gadis-gadis yang berusaha dekat dengannya.

Kesempatan pun tiba, ketika Herman terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Vika menjadi Seketarisnya. Vika pun sangat senang dengan situasi itu. Akhirnya kesempatan untuk dekat dengan lelaki idamannya itu terbuka lebar. Dan ternyata benar, semakin hari hubungan Vika dan Herman semakin dekat. Perhatian dan rasa sayang Herman kepada Vika membuat Vika semakin jatuh cinta kepada Herman. Dan Vika pun merasa Herman mempunyai perasaan yang sama dengannya. Namun saat itu, hubungan mereka berdua masih hanya sebatas teman.

Sebagai seorang gadis, Vika masih mempunyai harga diri tinggi untuk menyatakan cintanya lebih dulu. Vika memilih menunggu Herman menyatakan cintanya. Beberapa momen sempat terjadi dimana Vika merasa Herman akan menyatakan cintanya, namun kata-kata yang ditunggunya dari Herman ternyata terlewatkan begitu saja. Vika tetap menunggu dan terus menunggu, namun Herman rasanya sangat sulit sekali untuk menyatakan perasaannya.

Hingga akhirnya, Vika tidak lagi bisa menahan perasaannya. Ia berusaha bicara kepada Herman mengenai status hubungan mereka.

"Mas Herman, Vika boleh tanya sesuatu ga?", kata Vika.

"Ya?", Herman memperhatikan pembicaraan itu.

"Ummmm, sebenernya Vika ini di mata Mas Herman itu sebagai apa?", Vika berusaha menahan rasa deg-degannya. Herman cukup terkejut juga dengan pertanyaan Vika tersebut. Herman berdiam diri beberapa saat terlihat berpikir, ia terlihat ingin mengatakan sesuatu namun kata-kata itu masih tertahan di mulutnya.

"Vika"

"Ya Mas"

"Mas Herman suka sama Vika", kata Herman dengan nada sedikit pelan. Vika pun rasanya sangat senang mendengar kata-kata itu dari mulut lelaki idamannya. Rasanya ia ingin sekali saat itu juga memeluk lelaki di depan matanya itu.

Namun Herman melanjutkan perkataannya, " .. karena itu Mas Herman anggap Vika itu seperti adik kandung Mas sendiri ...".

Kata-kata terakhir Herman itu seperti sebuah petir di telinga Vika. Dalam sekejab, perasaan Vika langsung hancur lebur. Vika tidak bisa berkata apa-apa lagi dan kemudian dia berlari meninggalkan Herman sambil meneteskan air mata.

Sejak saat itu, Vika mengundurkan diri sebagai seketaris HMJ karena tidak tahan bertemu dengan Herman kembali. Hubungan keduanya pun mulai merenggang dan mereka jarang terlihat bersama lagi di kampus. Vika berusaha melupakan Herman. Keadaan itu bertahan hingga Vika lulus kuliah.

Beberapa tahun kemudian, Vika telah diterima di sebuah perusahaan Bank Pemerintah sebagai Staff Marketing. Pekerjaan Vika sebagai marketing menuntut ia untuk bertemu dengan banyak orang, hingga suatu saat ia bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangkanya.

Ya, ia bertemu Herman kembali. Saat itu Herman sudah menjadi seorang pengusaha meubel yang cukup sukses dan ia membutuhkan pinjaman di bank dimana Vika bekerja. Namun, tak disangka-sangka pertemuan kembali itu membangkitkan kembali kenangan masa-masa kuliah mereka berdua. 

Perhatian Herman kepada Vika yang tetap sama seperti saat kuliah dulu membuat Vika jatuh cinta kembali kepada Herman. Vika berpikir, "mungkin perasaan Mas Herman pada Vika sudah berubah sekarang".

Mereka berdua pun kembali sering menghabiskan waktu berdua sepeti saat masa-masa kuliah dulu. Keadaan itu membuat Vika cukup bahagia dan ia berharap mungkin mimpinya bertemu pangeran cintanya sudah saatnya terwujud.

Suatu hari Vika janji  beretemu makan siang dengan Herman.

"Vika, Mas Herman boleh ngomong ga?", Herman mulai bicara ketika mereka berdua makan siang bersama di sebuah kafe.

Vika sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, "Ngomong apaan mas?", jawab Vika dag dig dug.

"Ummm, Vika uda punya calon belum sekarang", lanjut Herman. Perasaan Vika rasanya melambung tinggi dengan pertanyaan itu, tapi ia berusaha menutupi rasa bahagianya itu,.

"calon apaan mas, ga ada ah, ga mikir yang begituan sekarang"

"Owh...", Herman pun tersenyum lega.

"Ngapain mas tanya gituan, mau nyatain cinta ya ke Vika?", Vika berusaha menggoda Herman dengan perasaan harap-harap cemasnya.

"Ummm, gini Vika. sebenernya .....", Herman sedikit ragu-ragu.

"Apa mas ....", Vika masih harap-harap cemas.

"Sebenernya .... Mas Herman juga janjian sama temen kuliah angkatan Mas Herman dulu di Cafe ini sekarang ..." , lanjut Herman tanpa berani menatap Vika.

Vika sedikit terkejut dengan kata-kata Herman dan sedikit kecewa namun dia berusaha menenangkan diri, "Trus apa hubungannya sama Vika, mas?"

Herman sedikit ragu-ragu menjawabnya, "... Ummm, namanya Adit, kamu tau kan orangnya?"

"Ow, Mas Adit, ya Vika tau", perasaan Vika semakin bingung dengan arah pembicaraan itu.

Herman menghela nafas dan berusaha memantapkan hati melanjutkan pembicaraannya, " Vika .... minggu depan, sebenernya ... Mas Herman mau Tunangan dengan seseorang yang saat ini bekerja dengan bisnis Mas Herman ..."

Vika terdiam membeku ..... Terkejut dengan apa yang tiba-tiba didengarnya. Untuk kedua kalinya, kata-kata Herman itu terdengar seperti suara petir di telinga Vika. Vika kembali terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.

"Makanya, Mas Herman mau perkenalkan kamu dengan teman Mas, si Adit, tau ga Si Adit ini sebenernya sudah jatuh cinta sama Vika sejak pertama kali ketemu Vika di bangku kuliah dulu. Tapi ia ga berani menyatakan cintanya ke Vika karena ..."

PLAK!! 

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Herman. Vika berdiri dari tempat duduknya dan dia berjalan meninggalkan Herman kembali, namun langkahnya terhalang oleh seseorang yang berdiri di sampingnya dengan wajah heran.

"Minggir !!", kata Vika kepada seseorang itu yang tak lain adalah Adit yang baru datang ke Cafe itu. Adit pun menyingkir dan memberi jalan Vika pergi dari Cafe itu.

Sebulan pun berlalu sejak kejadian itu. Ya saat pertunangan Herman dan calon istrinya telah terlewati. Namun Vika tetap mengurung diri dalam kamarnya sambil mengutuk kesialannya dalam hal cinta. Tiba-tiba suara HP berbunyi, ada SMS, Vika melihat dari siapa SMS itu.

Ternyata dari Adit, "Halo? Apa Kabar?". 

SMS itu justru membuat Vika semakin tidak nyaman, dia membalas SMS Adit tanpa berpikir panjang, "Bajingan, jangan ganggu Vika!!"

Vika berharap itu terakhir kalinya Adit SMS, namun dugaan ia salah, SMS balasan Adit terdengar kembali, "Waduh, Sadis amat, Vika ada waktu ga? bisa ketemuan?"

Vika pun langsung naik pitam, dia berpikir, "apa sih maunya orang ini, kok ga ngerti keadaan Vika sekarang". 

Namun sebelum sempat Vika membalas, SMS Adit datang lagi, "Aku tau kamu lagi BT, tapi sempetin ketemuan sama aku ya, sekali aja, habis gitu terserah Vika deh mau ketemu aku lagi apa ga?

Emosi Vika belum reda, tapi ia berpikir lagi "kalo Vika bertemu sekali aja ga ada masalah toh, terus habis urusan dengan bajingan ini"

Kemudian Vika membalas SMS Adit, "OK, kita ketemuan nanti sore jam 4 di Cafe deket Kampus"

SMS balasan Adit, "Sip"

Sore pun tiba, Vika berjalan masuk ke dalam Cafe tempat ia janji ketemuan dengan Adit. Dia melihat sosok Adit sudah menunggu di salah satu meja. Adit melambaikan tangan sambil berusaha terlihat ramah.

"Hai, gimana kabarnya?", kata Adit membuka pembicaraan.

"Ga usah basa-basi deh, sekarang Vika uda di sini, terus mau kamu apa? kalo ga ada perlu Vika mau pulang aja", balas Vika ketus.

Adit cuma tersenyum ramah, tanpa berkata apa-apa Adit mengambil sesuatu dalam tas yang dibawanya, dan meletakkan sebuah benda di atas meja cafe. 

Vika mengernyitkan dahinya melihat benda itu, samar-samar dia mulai mengingat benda yang dibawa Adit itu.

Sebuah botol kaca dengan tutup kayu dan di dalamnya terdapat sehelai kertas.

Vika tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "Dimana kamu nemuin botol ini??"

"Beberapa tahun yang lalu, aku pungut botol ini di Papuma ketika aku melihat seorang gadis berseragam SMA membuang sembarangan botol ini ke laut", jawab Adit ramah.

Vika pun terdiam dalam keterkejutannya menunggu kata-kata Adit selanjutnya ...

"Waktu itu, sebenernya mau marah sama gadis itu karena buang sampah sembarangan, tapi setelah aku pungut, gadis itu udah ga ada, terus aku liat ada kertas di dalam botol itu, iseng aja aku buka dan aku baca tulisannya ...", lanjut Adit.

Vika hanya bisa terdiam mendengar cerita Adit.

"Vika, aku tau saat ini Vika dalam keadaan yang tidak menyenangkan, tapi aku cuma pengen Vika tau, Botol ini yang telah membuat aku jatuh cinta sama Vika sejak bertemu kembali di bangku kuliah ...", Adit menghentikan ceritanya ketika melihat Vika meneteskan air mata.

"Maaf Vik, bukan maksud aku memaksa kamu dengan botol ini ...", Adit merasa bersalah.

"Bukan, Bukan karena itu ....", jawab Vika sambil terisak, "... Vika menangis karena selama ini Vika sudah buta sehingga tidak  bisa melihat cinta Mas Adit ...."

Adit cuma bisa tersenyum melihat Vika menangis terisak-isak. Sepintas terkenang kembali kehidupan masa-masa kuliah Vika. Tapi kali ini yang ada di pikiran Vika kenangan akan kebaikan-kabaikan Adit. 

Ya, Adit-lah yang ternyata dulu pernah menolongnya melewati masa-masa ospek, Adit-lah yang ternyata dulu selalu mendukung Vika hingga menjadi Seketaris HMJ mendampingi Herman, Adit-lah yang dulu selalu membereskan tugas-tugas yang tidak bisa ditangani Vika di HMJ, dan Adit-lah yang saat itu mungkin merasa hatinya paling perih melihat kedekatan Vika dengan Herman ... namun sosok Adit tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya.

"Vika, jika Vika berkenan atau setidaknya kenalilah aku lebih dulu ...", Adit berbicara dengan penuh perasaan sayang.

Air mata Vika semakin deras dan Vika tersenyum melihat ketulusan hati lelaki dihadapannya itu ...... "Ya ..."

Baca Selengkapnya ....

Gadis cantik berkulit putih lembut dan bermata coklat

Posted by Monsign Kamis, 06 Maret 2014 0 komentar


Ardi mendengar jeritan sebelum dia melihat sebuah perkelahian. Dia baru sadar jika sebelumnya dia hanya mengira sebuah pembicaraan debat yang sengit, ternyata sebuah perebutan yang tidak seimbang. Di dalam kereta api dari kota Jember menuju kota Malang, seorang lelaki berusaha merebut kalung emas dari seorang gadis cantik berkulit putih dan bermata coklat.

Setiap orang yang berada di dalam gerbong itu sepertinya membeku. Setiap orang sepertinya dingin, terpaku dalam gerakan lambat. Itu bukan karena para penumpang tidak peduli, tapi karena semata-mata tidak bisa bergerak karena keterkejutannya.

Ardi merupakan yang pertama memperoleh akalnya dan bangun dari keterkejutannya. Dia bergerak menuju gadis itu. Dengan penuh tenaga gadis itu melakukan perlawanan menolak menyerahkan kalungnya.

"Aku harus menolongnya sebelum pejambret itu mendapatkan kalungnya", pikir Ardi sambil berusaha menyibak sekumpulan penumpang yang menghalangi jalannya. Namun, hanya beberapa langkah saja, Ardi melihat tanpa daya ketika pejambret itu berhasil menarik kalung dengan kasarnya dari leher si gadis. Kereta baru saja mencapai stasiun Pasuruan dan perampok itu berlari keluar lewat pintu yang terbuka menuju peron.

"Tolong ....... ", si korban berteriak dengan lemah.

Ardi berlari keluar pintu mengejar penjambret itu. Dia menyusulnya sampai keluar stasiun Pasuruan dan mencegatnya di sebuah gang beberapa meter dari stasiun. Dia berhasil merebut kembali kalung itu, tapi penjambret berhasil kabur.

"Tidak apalah, paling gak kalung itu kembali", pikirnya.

Ardi berjalan kembali ke stasiun dengan perasaan bangga akan dirinya. Dia bertanya-tanya apa yang akan dikatakan oleh gadis cantik itu setelah dia berhasil membawa kalungnya kembali. Dia berjalan dengan penuh semangat.

Tetapi ketika dia sampai di stasiun, dia baru menyadari bahwa kereta tumpangannya telah meninggalkannya dan menghilang bersama gadis cantik itu. Dia berdiri terbengong di tepi rel.

"Sekarang gimana ?", Ardi bertanya pada dirinya sendiri dengan putus asa. Dia telah menantang bahaya. Tapi tak seorang pun yang menyadari apa yang telah dia lakukan.

Ardi memutuskan menunggu di stasiun, berjaga-jaga kalau si gadis menyadari perjuangannya dan kembali ke stasiun untuk berterima kasih kepadanya dan melihat apa yang akan terjadi. Setelah dua jam menunggu sia-sia, Ardi menyimpulkan bahwa si gadis ternyata tidak menyadari usahanya yang gagah berani.

Baca Selengkapnya ....

Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni ?

Posted by Monsign Senin, 26 Januari 2009 0 komentar


"Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni nanti?", kata Robi dengan sungkan-sungkan.

"Cukup dengan nyawa-mu", kataku membalas. Kami berdua pun tersenyum dengan jawabanku yang tentu saja cuma bercanda.

Aku dan Robi sudah bersahabat sejak kecil. Robi sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri, meski sebenarnya usia kita sama. Aku dianugrahi tubuh yang tinggi atletis, orang tua yang kaya, dan keberanian lebih. Berbeda dengan Robi, dia berasal dari keluarga kurang mampu, ayahnya sudah meninggal, ibunya bekerja sebagai pembantu dirumahku, dia orang yang lemah, dan orang yang penakut. Karena itulah aku sering melindunginya dari orang-orang yang berusaha memanfaatkan kelemahannya.

"Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni nanti?"

Kata-kata itu selalu terucap dari mulut Robi setiap kali dia merasa terselamatkan hidupnya karena keberadaanku. Entah sudah seberapa sering kata-kata itu terucap.

"cukup dengan nyawa-mu"

Dan candaan yang sama pun selalu terucap dari mulutku.

Saat ini, setelah kita berdua lulus kuliah, Robi mendapat tawaran pekerjaan di kota Yogjakarta. Pekerjaan yang cukup bagus untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, meskipun sebenarnya orangtuanya sudah cukup nyaman tinggal dirumahku sebagai pembantu. Awalnya aku kurang setuju dia pergi keluar kota, tapi dia tetap bersikeras untuk mengambil pekerjaan itu.

"Aku nggak bisa ngerepotin Mas Joni terus-terusan, aku mo nyoba hidup mandiri mas, tapi sebelumnya ....... aku minjem uangnya ya mas buat ongkos hidup sebulan disana, ntar aku cicil dengan gajiku", kata Robi sambil sungkan-sungkan.

Mendengar ketetapan hatinya itu, aku gak bisa menghalang-halangi keinginannya. Aku pun memberinya uang yang cukup untuk ongkos hidupnya selama sebulan di sana.

Kami pun tetap saling berhubungan melalui telepon dan sms. Kadang aku pun maen ke sana kalo lagi liburan, Robi sebulan sekali pulang untuk menemui orang tuanya. Kalo dia mo balik ke Yogjakarta, biasanya aku antarin sampai ke Yogjakarta. Kita pun punya rute khusus yang biasa kita lewati dan kita anggap rute itulah jalan paling cepat sampai ke Yogjakarta. Rute itu bukan jalan raya propensi yang menghubungkan antar kota, tapi rute ini cukup kami kenal.

Semakin lama kami pun mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Aku yang sekarang diberi tanggungjawab lebih oleh orangtuaku untuk mengurus perusahaan keluargaku, akhirnya semakin sulit meluangkan waktu untuk berlibur. Aku mulai kesulitan untuk melakukan perjalanan ke Yogjakarta bersama Robi lagi. Tapi Robi memaklumi kesibukanku. Saat ini, dia sudah mempunyai mobil bekas dari hasil pekerjaannya yang dipergunakannya untuk pulang dan balik ke Yogjakarta.

"Mas Joni, sekarang lagi capek?", sapa Bi Aminah. Bi Aminah adalah ibunya Robi. Beliau menyapaku ketika aku keluar dari garasi mobil, dan beliau terlihat agak resah.

"Kenapa Bi Aminah, kok kayak orang bingung?", tanyaku heran.

"Sudah seminggu lebih Robi gak ngasih kabar ke Bibi, apa Robi sempat menghubungi Mas Joni?", tanya beliau semakin gusar.

Aku terdiam.

"Kok tumben dia ga ngasih kabar Bi, biar Joni telepon sekarang ya Bi", aku pun mengambil HP dan menghubungi Robi. Tapi yang terdengar adalah nada peringatan bahwa nomor yang dituju tidak aktif. "Kok gak aktif ya Bi?"

"Iya mas, udah seminggu ini HP-nya gak aktif, Bibi jadi kuatir, perasaan Bibi gak enak sejak Robi balik ke Jogja minggu lalu", jawab beliau semakin cemas.

"Tenang Bi, pasti Robi baik-baik aja", jawabku berusaha menenangkan.

Sebenarnya aku pun merasa ada sesuatu yang mengganjal dihati, dan perasaanku mulai cemas juga. Entah kenapa seketika itu juga dikepalaku timbul ide untuk pergi ke Yogjakarta menemui Robi. Keinginan pergi ke Yogjakarta itu semakin kuat ketika makan aku menjatuhkan gelas hingga pecah. Perasaanku semakin cemas, tapi aku berusaha menutupinya di depan Bi Aminah.

"Bi, barusan aku nyoba lagi telpon HP-nya, tapi tetep gak aktif, aku mo berangkat ke Jogja aja Bi sekarang, aku sudah batalin semua janji di kantor besok", kataku berusaha menutupi rasa cemasku.

"Aduh Mas Joni, kalo berangkat sekarang nanti Mas Joni bakalan semalaman di jalan, Mas Joni kan sudah capek kerja seharian, besok aja mas berangkatnya", jawab beliau cemas.

"Gak pa-pa Bi, udah biasa, lagian yang penting sekarang itu Robi, aku juga jadi sedikit kuatir"

Aku pun berangkat ke Yogjakarta. Aku melewati rute yang biasa kami tempuh. Sepanjang perjalanan aku berusaha mencoba menghubungi Robi kembali, tapi jawabannya selalu sama, nomer tidak aktif.

Pukul sebelas malam, aku berhenti disebuah desa di sekitar daerah kota Magetan. Mataku kelelahan dan bermaksud untuk tidur sebentar. Namun tidak beberapa lama aku tertidur, aku dikejutkan dengan suara HP-ku. Aku lihat layar HP-ku untuk memastikan siapa yang menelepon.

Ternyata Robi.

"Halo, hei Rob, kamu kenapa!? kok gak ada kabar seminggu ini, nomermu gak aktif lagi, Bibi kuatir di rumah tuh!!", cerocosku dengan nada kesal.

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik.

"Maafin Robi ya mas, Mas Joni ada dimana sekarang?", jawabnya dengan nada yang sedikit berat.

"Enak aja maaf, kamu tuh udah bikin kuatir orang tau!! Aku dalam perjalanan mo ketempatmu, sekarang masih sampe di desa biasa kita ngopi itu", kataku masih kesal.

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik lagi.

"Mas, lima kilometer lagi dari sana ada pertigaan, kalo disana Mas Joni melihat seorang wanita hamil yang melambaikan tangan dipinggir jalan, Mas Joni jangan berhenti yah, terus aja jalan dengan kecepatan tinggi", katanya lagi dengan nada yang cukup berat kali ini.

"Heh, apa maksud kamu, di rute yang gak umum ini jalanannya kan sepi, mana mungkin ada wanita hamil dipinggir jalan ......halo.....halo......", sebelum aku meneruskan ucapanku, telponnya sudah terputus. Aku coba telpon balik, kembali nada peringatan tidak aktif, ini kejadian yang aneh.

Akhirnya, karena mataku sudah agak segaran, aku meneruskan perjalanan. Sepanjang perjalanan menuju pertigaan yang dimaksud Robi itu, kata-katanya terus terngiang-ngiang dipikiranku. "Apa maksudnya omongan Robi itu sih!?"

Tepat lima kilometer dari desa, di pertigaan yang dimaksud Robi, jantungku mulai berdebar-debar memikirkan kata-kata Robi. Mataku berusaha lebih waspada melihat kanan kiri jalan mencari wanita hamil yang dimaksud Robi dalam remang-remang cahaya jalanan.

Jarak 100 meter dari pertigaan, aku melihat sesosok wanita yang melambai-lambaikan tangan seperti berusaha memberi tanda untuk meminta tumpangan. Jantungku semakin berdetak kenjang,"apa ini wanita yang dimaksud Robi?".

Setelah mobilku semakin mendekati wanita tersebut, ternyata benar, dia wanita hamil. Seketika aku teringat pesan Robi, aku menambah kecepatanku dan meninggalkan wanita hamil itu. Setelah berjarak beberapa meter, aku berusaha melihat ke belakang melalui kaca spion. Aku terkejut, meskipun tidak begitu jelas melalui kaca spion, tapi dapat aku pastikan kalo wanita hamil itu tidak sendirian lagi, seperti ada beberapa pria yang tiba-tiba muncul sambil melemparkan batu ke arah mobilku, sepertinya mereka pun membawa semacam senjata tajam. Kaca belakang mobilku retak terkena lemparan batu.

Jantungku pun semakin berdebar-debar, dengan perasaan takut, aku menambah kecepatanku lagi berusaha meninggalkan tempat itu secepat dan sejauh mungkin.

"Apa mereka kawanan perampok?", pikirku.

Dalam keadaan belum tenang itu, aku terus menambah kecepatanku sambil sekali-sekali melihat ke arah belakang melalui kaca spion. "Ternyata mereka gak mengejar", bisikku dalam hati.

Tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh suara HP-ku. Dari Robi!!!

"Halo Rob, wanita hamil itu rampok yah !??", tanyaku tergesa-gesa.

"Mas Joni gak apa-apa!?", tanyanya balik masih dengan nada berat.

"Iya gak apa-apa, keliatannya mereka gak ngejar aku"

"Syukurlah....... Mas Joni gak ngalami kejadian seperti aku", katanya lega tapi masih dengan nada yang berat.

"Iya, tapi ..........", aku menghentikan ucapanku sesaat, aku sedikit terkejut dengan ucapan Robi barusan. "Kamu .........!?"

Kami berdua sama-sama terdiam membisu.

"Mas Joni......... Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni.....", kata Robi tiba-tiba.

Aku masih terdiam, menunggu apa yang akan diucapkan Robi selanjutnya.

"Mungkin memang harus dengan nyawa-ku ya mas", katanya seperti sambil menangis.

Aku terasa seperti disambar petir mendengar ucapan itu, tapi aku gak bisa mengucapkan kata apa-apa, cuma tanganku berusaha mengemudikan mobil agar tetap dijalurnya. Sesaat kemudian, hubungan terputus, dan aku sama sekali gak bisa berpikir untuk meneleponnya kembali.

Aku terus berjalan sampai pada kota terdekat untuk mencari kantor polisi. Aku laporkan kejadian yang aku alami. Laporanku ternyata ditanggapi dengan cepat oleh polisi, karena polisi pun saat ini sedang giat-giatnya memberantas kasus perampokan di jalanan. Beberapa jam kemudian, entah bagaimana cara kerja polisi yang begitu menakjubkan, aku mendapat kabar dari kepolisian bahwa kawanan perampok itu telah tertangkap. Dan yang paling membuatku terpukul, kawanan perampok itu mengakui selalu membunuh para korbannya, dipastikan Robi adalah salah satu korbannya.

Sampai saat ini, aku masih belum mengerti, Robi terbunuh seminggu sebelum kejadian malam itu, tapi kenapa dia bisa menghubungiku di malam kejadian itu. Apa karena arwahnya masih penasaran karena hutang budi sama aku? trus dia berusaha melakukan kontak dengan aku. Benar-benar sulit dipahami.

Yang jelas ucapannya sampai saat terakhirnya berhubungan denganku masih tetap saja sama.

"Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni?"

Baca Selengkapnya ....

Tidak Semua Cerita Heppy Ending

Posted by Monsign Kamis, 25 Desember 2008 0 komentar


Rusli pertama kali bertemu dengan si rambut panjang di sebuah bengkel mobil yang letaknya di antara jalan Pasuruan - Malang. Entah kenapa mobil mereka sama-sama bermasalah hampir bersamaan di dekat bengkel itu. Rusli berusaha mengajak bicara si rambut panjang dengan penuh semangat, berharap gadis itu tertarik kepadanya seperti dia tertarik kepada gadis itu.

Tapi, gadis itu tidak tertarik.

Ketika Rusli meminta no HP-nya, gadis itu menolak dengan sopan.

Rusli mengangkat bahunya dengan kecewa, tapi dia menerima penolakan itu dengan baik. Setidaknya dia sudah berusaha. Dia tidak akan pernah bertemu dengan gadis itu lagi.

Dia salah.

Satu bulan kemudian, Rusli mengenali sebuah mobil yang diparkir di pinggir jalan, mobil itu dipasangi tanda yang menandakan ada masalah. Dia berhenti untuk menawarkan bantuan.

Pemilik mobil itu adalah si rambut panjang.

Sekali lagi, dia merasakan ketertarikan yang sangat kuat terhadap gadis itu. Sekali lagi dia meminta no HP-nya. Dan sekali lagi, dengan mengabaikan kebaikannya (dan keterampilan mekanisnya, karena dia mampu memperbaiki mobil itu), si rambut panjang dengan kasar menolak. Sekali lagi, Rusli menerima penolakan dengan baik dan mereka berpisah jalan.

Tetapi tidak lama.

Satu tahun kemudian, di sebuah jalan pada bagian kota yang berbeda, Rusli terpaku oleh sebuah pemandangan mobil yang terbakar. Dia menepi dengan cepat dibelakang mobil yang terbakar itu, dan menemukan bahwa mobil tersebut milik seseorang yang tidak lain adalah ...... si rambut panjang.

Hal serupa terjadi kembali. Rusli berhasil mematikan api, dan kemudian meminta no HP-nya. Sekali lagi, si rambut panjang berkata tidak.

Dua tahun kemudian, di sebuah jalan tol, Rusli berhenti untuk membantu korban-korban kecelakaan beruntun. Kejutan! Salah satu korban adalah ........ si rambut panjang.

Kali ini si rambut panjang terkesan dengan kebetulan-kebetulan yang mempertemukan mereka, akhirnya gadis itu setuju untuk memberikan nomer HP-nya.

Mereka mengatur waktu untuk bertemu di sebuah restoran, Rusli pun senang.

Namun kesenangannya hanya berumur pendek.

Si rambut panjang tidak pernah muncul, no HP-nya pun tidak aktif. Setelah menunggu lebih dari dua jam di tempat dan waktu yang telah disepakati, Rusli akhirnya menyimpulkan bahwa si rambut panjang "tidak akan pernah datang" dan menolaknya lagi.

Setelah itu, Rusli menolak berhenti di lokasi kecelakaan mana pun. Dan sejak itu, Rusli tidak pernah bertemu lagi dengan si rambut panjang.

Baca Selengkapnya ....

Keputusan Besar

Posted by Monsign Sabtu, 08 November 2008 0 komentar

"Gagal ginjal kronis", para dokter memberitahu saudara sepupuku, Imron, yang terhubung dengan mesin-mesin dialisis selama lebih dari empat tahun, tetapi keadaannya memburuk dengan cepat. "Satu-satunya harapan Anda adalah cangkok ginjal". Aku, diantara beberapa sanak saudara yang lain, diminta memberikan sampel darah untuk melihat apakah bisa dijadikan donor. Aku terguncang saat mengetahui bahwa akulah satu-satunya donor yang sempurna.

Telepon dari rumah sakit datang di tengah pesta ulang tahun putriku yang genap empat tahun. Istriku, saat ini sedang mengandung delapan bulan anak kedua kami, memandang ingin tahu ketika aku menutup telepon. Dia telah menangkap sesuatu dari percakapan bisu itu dan jawabanku. Aku tidak ingin merusak pesta demi dia dan putriku.

"ada apa?", dia bertanya.

"Jangan sekarang", aku berkata sambil melirik pada anak kami dan kue ulang tahunnya.

Jam sembilan malam, putri kami sudah tertidur di kamarnya. Aku membantu istriku membereskan sisa-sisa pesta ulang tahun putriku. Ketika kami mencuci piring kotor bersama di dapur, aku pun menceritakan perihal telepon dari rumah sakit.

"Ini benar-benar sangat berat, Mas", dia berkata, tertekan. "Dapatkah kita mempertimbangkan dulu?"

"Imron nggak memiliki banyak waktu, Dik. Aku bilang sama dokter kalo aku mau kasih jawaban besok".

"Besok!?", dia terpekik, geram. "Mas pikir ...... ginjal Mas itu ban cadangan? Gimana jika tiba-tiba nanti Mas sendiri membutuhkan ginjal? Apa orang-orang di sekitar Mas rela kasih ginjalnya satu buat Mas?"

"Dik.....", aku berkata. "Ini juga nggak mudah buat aku. Pecayalah, aku juga takut sekali, aku ragu-ragu. Jika mau jujur, aku akan mengakui aku akan sangat lega kalo aku bukan donor yang cocok, tapi faktanya lain".

"Mas....", dia berkata mantap, "ini pembedahan besar dengan resiko serius. Aku nggak ijinkan Mas melakukannya!".

"Imron sudah seperti adik kandungku sendiri, Dik. Itu bukanlah sesuatu yang ingin aku lakukan. Ini sesuatu yang harus aku lakukan. Apa kehidupanku akan tenang kalo aku mengingkari hak Imron untuk hidup?"

"Ini keputusan besar, Mas, yang melibatkan kita. Mas mempunyai keluarga sekarang dan tanggung jawab pada keluarga ini!"

"Dik .......", aku bicara dengan lembut, "aku sungguh-sungguh harus melakukannya"

"Aku nggak akan ijinkan Mas melakukan hal itu. Aku nggak bisa membiarkan Mas mengambil resiko besar!" Dia mengamuk keluar ruangan, matanya sedingin es, dagunya menunjukkan ketetapan hati.

Sebagian dari diriku ingin luluh pada permintaannya dan mengabulkannya. Aku tidak dapat menyalahkannya ..... "Maaf, tetapi seperti yang kamu ketahui, istrimu sebentar lagi akan melahirkan dan dia tidak mengijinkanmu untuk ........" lamunku. Tetapi bagian lain dari diriku tidak mau menerima skenario itu, malu.

Malam itu, aku menghempaskan diri di ranjang, dalam tidur yang tidak nyenyak, menderita sekali memikirkan apa yang harus dilakukan. Lantas aku bermimpi, di dalam mimpi aku mengunjungi Imron di rumah sakit.

Aku berjalan masuk, berusaha memasang wajah ceria sebelum masuk dan menyapa dengan bermuka dua, bersikap akrab, "Hei, bro, gimana kabarmu?"

"Hidup segan mati tak mau", Imron menjawab dengan getir, "ini bukan hidup, Mas Rudi ......... tidak bisa makan, hampir tidak boleh minum, bergantung hidup pada mesin selama berjam-jam, dan ketika prosedur yang kejam terlewati, aku malah merasa lebih buruk dari sebelumnya".

"Tapi .......", aku menyela, masih berusaha menunjukkan keceriaan palsu. "Paling nggak prosedur ini bisa buat kamu bergerak dan kamu bebas!"

"Yah, bebas!" Imron menjawab masam. "Bebas untuk pergi dari satu dialisis ke dialisis yang lain". Dia memberi isyarat ke arah kabel-kabel yang menghubungkan dirinya dengan mesin. "Aku berumur 25 tahun dan aku terpenjara disini!"

"Imron ....", aku berkata tanpa daya, "apa yang bisa aku lakukan?"

"Aku nggak bisa hidup seperti ini terus, Mas Rudi. Tolong bantu aku!", Imron menangis.

Aku bangun dengan keringat basah.

Aku berketetapan hati, tanpa memperdulikan kemarahan istriku dan perasaan takutku, untuk mendonorkan ginjal.

Ketika aku didorong ke dalam ruang operasi, dokter disisiku berbisik memberi semangat. "Anda berada di tangan-tangan yang ahli, Pak Rudi", dia berkata. "Anda telah membuat keputusan yang sepadan".

Esok paginya, aku bangun dengan kepala pusing dan melihat seorang dokter berdiri di sisi tempat tidurku.

"Selamat pagi, Pak Rudi!", dia berkata ceria. "Bagaimana perasaan anda ..... selain ketidaknyamanan normal setelah operasi?"

"Dok", aku merintih, "saya nggak tahu bagaimanakah yang normal itu, tapi saya cukup yakin kalo saya sangat kesakitan"

"Yaa ....... begini .......", sesaat dia sedikit ragu-ragu. "Saya harus memberitahu anda bahwa terjadi sesuatu yang tidak terduga terjadi selama operasi ....."

"Apa yang terjadi sama Imron?", aku bertanya cemas.

"Dia masih di dialisis, tapi jangan kuatir, kami masih memiliki donor lain untuknya"

Aku memandang dokter dengan bingung.

"Pak Rudi ....", dia memulai dengan pelan, saya sangsi anda pernah mendengar renal cell carcinoma". Aku menggelengkan kepala. "Itu adalah suatu bentuk tak tersembuhkan dari kanker", dia melanjutkan "pada hakekatnya selalu fatal"

"Apa maksud anda Imron .......", aku bertanya dengan senewen, jantungku berdebar, bahkan ketika dokter itu menyelaku di tengah-tengah kalimat.

"Tidak, Pak Imron, dia selamat ...... begitu juga anda. Hasil ultrasound anda menunjukkan dua ginjal yang sehat. Salah satu dari keduanya akan menyelamatkan saudara sepupu anda. Dan sewenang-wenang ............ demikian kami pikir ...... untuk menentukan yang mana yang kami pilih dari ginjal anda. Yang kami tahu, tangan-tangan kami dibimbing ke ginjal yang tepat ......... karena, Pak Rudi, sekali kami mengangkat ginjal kiri anda, mata telanjang kami mampu melihat apa yang tidak mampu ditunjukkan oleh ultrasound. Pada korteks ginjal kiri anda terdapat sebuah bintil kecil, bintil dari renal cell carcinoma. Jika anda memilih untuk tidak mendonorkan ginjal pada saudara sepupu anda, anda dapat meninggal dengan mudah dalam satu tahun dan jika ginjal itu tidak diperiksa sebagaimana mestinya, Pak Imron pasti telah meninggal karena kanker anda ...."

Aku terbengong mendengar penjelasan dokter.

"Pak Rudi, niat anda benar-benar sangat mulia. Anda berpikir anda menyelamatkan hidup saudara sepupu anda, tetapi itu berbalik, teman, Pak Imron-lah yang menyelamatkan hidup anda"

Baca Selengkapnya ....

Penelepon Mesum

Posted by Monsign Jumat, 07 November 2008 0 komentar

Dini hari, Dita terbangun dari tidur nyenyaknya oleh ringtone HP-nya yang nyaring dan tidak mau berhenti. Dengan malas-malasan, ia membuka matanya, meraih HP-nya dan melihat siapa yang menelepon dini hari begini. Di layar HP-nya tertulis nomer yang tidak dikenalnya, kemudian dia melihat jam didinding kamarnya, dan tercengang melihat bahwa saat itu baru jam tiga pagi.

"Sebaiknya ini kabar yang bagus", ia berpikir.

Dita menerima telepon itu.

Ternyata panggilan telepon yang tidak senonoh dari seseorang yang entah darimana asalnya.

Ia membanting HP-nya ke tempat tidurnya dengan marah dan menarik selimut ke atas kepalanya, bersiap kembali tidur.

Namun ia tidak dapat mengusir bahasa buruk atau saran cabul laki-laki itu dari kepalanya.

"Barangkali nggak baik buatku kalo terus-terusan melajang", ia berpikir.

Ia menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat tidur, tetapi itu benar-benar tidak ada gunanya. Ia tidak dapat kembali tidur. Kegelisahannya berasal dari telepon itu . Sambil berbisik ia terus mengutuki penelepon itu.

"Lebih baik bangun dan membuat secangkir teh", katanya.

Ia berjalan terhuyung-huyung menuju dapur, masih mengutuki penelepon itu, mengutuk Tuhan, mengutuk hidup, mengutuk alam semesta, mengutuk nasib, mengutuk apa saja yang terpikirkan karena mengacaukan tidur malamnya.

Tetapi pikirannya berubah saat ia menyalakan lampu. Jendela dapur, yang telah tertutup rapat sebelumnya, sekarang terbuka lebar. Sebilah pisau potong yang kelihatan jahat dan bukan miliknya tergeletak di meja dapur, bersama sebuah topeng ski penutup wajah serta seutas tali.

Ketika Dita berusaha memahami makna dari jendela yang terbuka dan barang-barang yang mengandung maksud jahat itu, ia merasa sesak didada dan tubuhnya gemetaran. Dalam bayangannya sudah jelas sekali, bahwa pada saat ia tertidur pulas, seorang penjahat telah masuk dengan paksa ke dalam rumah kontrakannya, dan penjahat itu sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan penyerangan.

Pada momen yang sangat tepat itu juga, Hp-nya berbunyi. Membangunkan ia dari tidurnya dan menakut-nakuti pikirannya, sekaligus menakut-nakuti sang penjahat, sehingga penjahat itu keluar dari rumah kontrakannya dengan meninggalkan barang-barangnya.

Dita berdiri terbengong dalam dapurnya.

"Terima kasih, Tuhan", katanya. "Dan terima kasih, Penelepon Mesum", ia menambahkan "aku mengutuk perbuatanmu, tapi ternyata keisenganmu yang menyelamatkan hidupku"

Baca Selengkapnya ....
Template by Cara Membuat Email | Copyright of My Sunset.