Vika adalah seorang gadis yang mempunyai mimpi bertemu dengan pangeran cintanya. Vika baru lulus SMU dan sampai saat itu ia belum menemukan seorang lelaki pun yang cocok di hatinya. Dengan paras cantiknya, Vika sebenarnya cukup populer di sekolahnya. Tidak sedikit lelaki yang ingin dekat dengannya, namun Vika tidak tertarik pada beberapa lelaki yang mendekatinya tersebut.
Ketika itu Vika sedang merayakan pesta kelulusan SMU bersama teman-teman sekolahnya di Pantai Papuma Jember. Selayaknya anak muda, mereka bersenda gurau di tepi pantai menikmati kelulusannya menuju gerbang kedewasaan. Vika dan beberapa temannya berjalan menyusuri pantai sambil bercanda-canda.
Waktu asik-asiknya bercanda, pandangan Vika tertarik pada suatu benda yang terpendam di pasir putih. Ia mendekatinya untuk memastikan benda apa itu, ternyata sebuah botol kaca bekas dengan tutup kayu.
"Siapa neh yang buang sampah sembarangan", pikirnya. Kemudian ia melihat sekitar untuk mencari tempat sampah, namum tiba-tiba pikiran iseng datang dalam benaknya. Dia memandangi botol itu dan sebuah senyum iseng muncul dibibirnya.
Vika mengambil sehelai kertas dan pena di dalam tasnya. Kemudian dia menulis, "Siapapun cowok yang menemukan botol ini, Saya bersedia untuk menikahimu. Vika". Dia menggulung kertas itu dan memasukkannya dalam botol. Kemudian ia berjalan ke tepi pantai dan membuang botol itu ke laut lepas. Ia pun tersenyum merasa geli dengan keisengannya itu.
2 tahun kemudian, Vika telah kuliah di Universitas Jember. Saat-saat kuliah merupakan waktu yang sangat menyenangkan baginya. Karena di bangku kuliah itulah dia baru menemukan pangeran cintanya, tepatnya lelaki idamannya.
Namanya Herman, kakak angkatan Vika. Lelaki yang berperawakan gagah, tampan, dan selalu terlihat penuh antusias. Vika sangat mengagumi kakak angkatannya itu karena sikapnya yang selalu ramah kepada adik-adik angkatannya. Namun Herman pun ternyata adalah orang yang cukup populer di kampus, sehingga banyak gadis-gadis yang berusaha dekat dengannya.
Kesempatan pun tiba, ketika Herman terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Vika menjadi Seketarisnya. Vika pun sangat senang dengan situasi itu. Akhirnya kesempatan untuk dekat dengan lelaki idamannya itu terbuka lebar. Dan ternyata benar, semakin hari hubungan Vika dan Herman semakin dekat. Perhatian dan rasa sayang Herman kepada Vika membuat Vika semakin jatuh cinta kepada Herman. Dan Vika pun merasa Herman mempunyai perasaan yang sama dengannya. Namun saat itu, hubungan mereka berdua masih hanya sebatas teman.
Sebagai seorang gadis, Vika masih mempunyai harga diri tinggi untuk menyatakan cintanya lebih dulu. Vika memilih menunggu Herman menyatakan cintanya. Beberapa momen sempat terjadi dimana Vika merasa Herman akan menyatakan cintanya, namun kata-kata yang ditunggunya dari Herman ternyata terlewatkan begitu saja. Vika tetap menunggu dan terus menunggu, namun Herman rasanya sangat sulit sekali untuk menyatakan perasaannya.
Hingga akhirnya, Vika tidak lagi bisa menahan perasaannya. Ia berusaha bicara kepada Herman mengenai status hubungan mereka.
"Mas Herman, Vika boleh tanya sesuatu ga?", kata Vika.
"Ya?", Herman memperhatikan pembicaraan itu.
"Ummmm, sebenernya Vika ini di mata Mas Herman itu sebagai apa?", Vika berusaha menahan rasa deg-degannya. Herman cukup terkejut juga dengan pertanyaan Vika tersebut. Herman berdiam diri beberapa saat terlihat berpikir, ia terlihat ingin mengatakan sesuatu namun kata-kata itu masih tertahan di mulutnya.
"Vika"
"Ya Mas"
"Mas Herman suka sama Vika", kata Herman dengan nada sedikit pelan. Vika pun rasanya sangat senang mendengar kata-kata itu dari mulut lelaki idamannya. Rasanya ia ingin sekali saat itu juga memeluk lelaki di depan matanya itu.
Namun Herman melanjutkan perkataannya, " .. karena itu Mas Herman anggap Vika itu seperti adik kandung Mas sendiri ...".
Kata-kata terakhir Herman itu seperti sebuah petir di telinga Vika. Dalam sekejab, perasaan Vika langsung hancur lebur. Vika tidak bisa berkata apa-apa lagi dan kemudian dia berlari meninggalkan Herman sambil meneteskan air mata.
Sejak saat itu, Vika mengundurkan diri sebagai seketaris HMJ karena tidak tahan bertemu dengan Herman kembali. Hubungan keduanya pun mulai merenggang dan mereka jarang terlihat bersama lagi di kampus. Vika berusaha melupakan Herman. Keadaan itu bertahan hingga Vika lulus kuliah.
Beberapa tahun kemudian, Vika telah diterima di sebuah perusahaan Bank Pemerintah sebagai Staff Marketing. Pekerjaan Vika sebagai marketing menuntut ia untuk bertemu dengan banyak orang, hingga suatu saat ia bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangkanya.
Ya, ia bertemu Herman kembali. Saat itu Herman sudah menjadi seorang pengusaha meubel yang cukup sukses dan ia membutuhkan pinjaman di bank dimana Vika bekerja. Namun, tak disangka-sangka pertemuan kembali itu membangkitkan kembali kenangan masa-masa kuliah mereka berdua.
Perhatian Herman kepada Vika yang tetap sama seperti saat kuliah dulu membuat Vika jatuh cinta kembali kepada Herman. Vika berpikir, "mungkin perasaan Mas Herman pada Vika sudah berubah sekarang".
Mereka berdua pun kembali sering menghabiskan waktu berdua sepeti saat masa-masa kuliah dulu. Keadaan itu membuat Vika cukup bahagia dan ia berharap mungkin mimpinya bertemu pangeran cintanya sudah saatnya terwujud.
Suatu hari Vika janji beretemu makan siang dengan Herman.
"Vika, Mas Herman boleh ngomong ga?", Herman mulai bicara ketika mereka berdua makan siang bersama di sebuah kafe.
Vika sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, "Ngomong apaan mas?", jawab Vika dag dig dug.
"Ummm, Vika uda punya calon belum sekarang", lanjut Herman. Perasaan Vika rasanya melambung tinggi dengan pertanyaan itu, tapi ia berusaha menutupi rasa bahagianya itu,.
"calon apaan mas, ga ada ah, ga mikir yang begituan sekarang"
"Owh...", Herman pun tersenyum lega.
"Ngapain mas tanya gituan, mau nyatain cinta ya ke Vika?", Vika berusaha menggoda Herman dengan perasaan harap-harap cemasnya.
"Ummm, gini Vika. sebenernya .....", Herman sedikit ragu-ragu.
"Apa mas ....", Vika masih harap-harap cemas.
"Sebenernya .... Mas Herman juga janjian sama temen kuliah angkatan Mas Herman dulu di Cafe ini sekarang ..." , lanjut Herman tanpa berani menatap Vika.
Vika sedikit terkejut dengan kata-kata Herman dan sedikit kecewa namun dia berusaha menenangkan diri, "Trus apa hubungannya sama Vika, mas?"
Herman sedikit ragu-ragu menjawabnya, "... Ummm, namanya Adit, kamu tau kan orangnya?"
"Ow, Mas Adit, ya Vika tau", perasaan Vika semakin bingung dengan arah pembicaraan itu.
Herman menghela nafas dan berusaha memantapkan hati melanjutkan pembicaraannya, " Vika .... minggu depan, sebenernya ... Mas Herman mau Tunangan dengan seseorang yang saat ini bekerja dengan bisnis Mas Herman ..."
Vika terdiam membeku ..... Terkejut dengan apa yang tiba-tiba didengarnya. Untuk kedua kalinya, kata-kata Herman itu terdengar seperti suara petir di telinga Vika. Vika kembali terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.
"Makanya, Mas Herman mau perkenalkan kamu dengan teman Mas, si Adit, tau ga Si Adit ini sebenernya sudah jatuh cinta sama Vika sejak pertama kali ketemu Vika di bangku kuliah dulu. Tapi ia ga berani menyatakan cintanya ke Vika karena ..."
PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Herman. Vika berdiri dari tempat duduknya dan dia berjalan meninggalkan Herman kembali, namun langkahnya terhalang oleh seseorang yang berdiri di sampingnya dengan wajah heran.
"Minggir !!", kata Vika kepada seseorang itu yang tak lain adalah Adit yang baru datang ke Cafe itu. Adit pun menyingkir dan memberi jalan Vika pergi dari Cafe itu.
Sebulan pun berlalu sejak kejadian itu. Ya saat pertunangan Herman dan calon istrinya telah terlewati. Namun Vika tetap mengurung diri dalam kamarnya sambil mengutuk kesialannya dalam hal cinta. Tiba-tiba suara HP berbunyi, ada SMS, Vika melihat dari siapa SMS itu.
Ternyata dari Adit, "Halo? Apa Kabar?".
SMS itu justru membuat Vika semakin tidak nyaman, dia membalas SMS Adit tanpa berpikir panjang, "Bajingan, jangan ganggu Vika!!"
Vika berharap itu terakhir kalinya Adit SMS, namun dugaan ia salah, SMS balasan Adit terdengar kembali, "Waduh, Sadis amat, Vika ada waktu ga? bisa ketemuan?"
Vika pun langsung naik pitam, dia berpikir, "apa sih maunya orang ini, kok ga ngerti keadaan Vika sekarang".
Namun sebelum sempat Vika membalas, SMS Adit datang lagi, "Aku tau kamu lagi BT, tapi sempetin ketemuan sama aku ya, sekali aja, habis gitu terserah Vika deh mau ketemu aku lagi apa ga?
Emosi Vika belum reda, tapi ia berpikir lagi "kalo Vika bertemu sekali aja ga ada masalah toh, terus habis urusan dengan bajingan ini"
Kemudian Vika membalas SMS Adit, "OK, kita ketemuan nanti sore jam 4 di Cafe deket Kampus"
SMS balasan Adit, "Sip"
Sore pun tiba, Vika berjalan masuk ke dalam Cafe tempat ia janji ketemuan dengan Adit. Dia melihat sosok Adit sudah menunggu di salah satu meja. Adit melambaikan tangan sambil berusaha terlihat ramah.
"Hai, gimana kabarnya?", kata Adit membuka pembicaraan.
"Ga usah basa-basi deh, sekarang Vika uda di sini, terus mau kamu apa? kalo ga ada perlu Vika mau pulang aja", balas Vika ketus.
Adit cuma tersenyum ramah, tanpa berkata apa-apa Adit mengambil sesuatu dalam tas yang dibawanya, dan meletakkan sebuah benda di atas meja cafe.
Vika mengernyitkan dahinya melihat benda itu, samar-samar dia mulai mengingat benda yang dibawa Adit itu.
Sebuah botol kaca dengan tutup kayu dan di dalamnya terdapat sehelai kertas.
Vika tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "Dimana kamu nemuin botol ini??"
"Beberapa tahun yang lalu, aku pungut botol ini di Papuma ketika aku melihat seorang gadis berseragam SMA membuang sembarangan botol ini ke laut", jawab Adit ramah.
Vika pun terdiam dalam keterkejutannya menunggu kata-kata Adit selanjutnya ...
"Waktu itu, sebenernya mau marah sama gadis itu karena buang sampah sembarangan, tapi setelah aku pungut, gadis itu udah ga ada, terus aku liat ada kertas di dalam botol itu, iseng aja aku buka dan aku baca tulisannya ...", lanjut Adit.
Vika hanya bisa terdiam mendengar cerita Adit.
"Vika, aku tau saat ini Vika dalam keadaan yang tidak menyenangkan, tapi aku cuma pengen Vika tau, Botol ini yang telah membuat aku jatuh cinta sama Vika sejak bertemu kembali di bangku kuliah ...", Adit menghentikan ceritanya ketika melihat Vika meneteskan air mata.
"Maaf Vik, bukan maksud aku memaksa kamu dengan botol ini ...", Adit merasa bersalah.
"Bukan, Bukan karena itu ....", jawab Vika sambil terisak, "... Vika menangis karena selama ini Vika sudah buta sehingga tidak bisa melihat cinta Mas Adit ...."
Adit cuma bisa tersenyum melihat Vika menangis terisak-isak. Sepintas terkenang kembali kehidupan masa-masa kuliah Vika. Tapi kali ini yang ada di pikiran Vika kenangan akan kebaikan-kabaikan Adit.
Ya, Adit-lah yang ternyata dulu pernah menolongnya melewati masa-masa ospek, Adit-lah yang ternyata dulu selalu mendukung Vika hingga menjadi Seketaris HMJ mendampingi Herman, Adit-lah yang dulu selalu membereskan tugas-tugas yang tidak bisa ditangani Vika di HMJ, dan Adit-lah yang saat itu mungkin merasa hatinya paling perih melihat kedekatan Vika dengan Herman ... namun sosok Adit tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya.
"Vika, jika Vika berkenan atau setidaknya kenalilah aku lebih dulu ...", Adit berbicara dengan penuh perasaan sayang.
Air mata Vika semakin deras dan Vika tersenyum melihat ketulusan hati lelaki dihadapannya itu ...... "Ya ..."