Keputusan Besar

Posted by Monsign Sabtu, 08 November 2008 0 komentar

"Gagal ginjal kronis", para dokter memberitahu saudara sepupuku, Imron, yang terhubung dengan mesin-mesin dialisis selama lebih dari empat tahun, tetapi keadaannya memburuk dengan cepat. "Satu-satunya harapan Anda adalah cangkok ginjal". Aku, diantara beberapa sanak saudara yang lain, diminta memberikan sampel darah untuk melihat apakah bisa dijadikan donor. Aku terguncang saat mengetahui bahwa akulah satu-satunya donor yang sempurna.

Telepon dari rumah sakit datang di tengah pesta ulang tahun putriku yang genap empat tahun. Istriku, saat ini sedang mengandung delapan bulan anak kedua kami, memandang ingin tahu ketika aku menutup telepon. Dia telah menangkap sesuatu dari percakapan bisu itu dan jawabanku. Aku tidak ingin merusak pesta demi dia dan putriku.

"ada apa?", dia bertanya.

"Jangan sekarang", aku berkata sambil melirik pada anak kami dan kue ulang tahunnya.

Jam sembilan malam, putri kami sudah tertidur di kamarnya. Aku membantu istriku membereskan sisa-sisa pesta ulang tahun putriku. Ketika kami mencuci piring kotor bersama di dapur, aku pun menceritakan perihal telepon dari rumah sakit.

"Ini benar-benar sangat berat, Mas", dia berkata, tertekan. "Dapatkah kita mempertimbangkan dulu?"

"Imron nggak memiliki banyak waktu, Dik. Aku bilang sama dokter kalo aku mau kasih jawaban besok".

"Besok!?", dia terpekik, geram. "Mas pikir ...... ginjal Mas itu ban cadangan? Gimana jika tiba-tiba nanti Mas sendiri membutuhkan ginjal? Apa orang-orang di sekitar Mas rela kasih ginjalnya satu buat Mas?"

"Dik.....", aku berkata. "Ini juga nggak mudah buat aku. Pecayalah, aku juga takut sekali, aku ragu-ragu. Jika mau jujur, aku akan mengakui aku akan sangat lega kalo aku bukan donor yang cocok, tapi faktanya lain".

"Mas....", dia berkata mantap, "ini pembedahan besar dengan resiko serius. Aku nggak ijinkan Mas melakukannya!".

"Imron sudah seperti adik kandungku sendiri, Dik. Itu bukanlah sesuatu yang ingin aku lakukan. Ini sesuatu yang harus aku lakukan. Apa kehidupanku akan tenang kalo aku mengingkari hak Imron untuk hidup?"

"Ini keputusan besar, Mas, yang melibatkan kita. Mas mempunyai keluarga sekarang dan tanggung jawab pada keluarga ini!"

"Dik .......", aku bicara dengan lembut, "aku sungguh-sungguh harus melakukannya"

"Aku nggak akan ijinkan Mas melakukan hal itu. Aku nggak bisa membiarkan Mas mengambil resiko besar!" Dia mengamuk keluar ruangan, matanya sedingin es, dagunya menunjukkan ketetapan hati.

Sebagian dari diriku ingin luluh pada permintaannya dan mengabulkannya. Aku tidak dapat menyalahkannya ..... "Maaf, tetapi seperti yang kamu ketahui, istrimu sebentar lagi akan melahirkan dan dia tidak mengijinkanmu untuk ........" lamunku. Tetapi bagian lain dari diriku tidak mau menerima skenario itu, malu.

Malam itu, aku menghempaskan diri di ranjang, dalam tidur yang tidak nyenyak, menderita sekali memikirkan apa yang harus dilakukan. Lantas aku bermimpi, di dalam mimpi aku mengunjungi Imron di rumah sakit.

Aku berjalan masuk, berusaha memasang wajah ceria sebelum masuk dan menyapa dengan bermuka dua, bersikap akrab, "Hei, bro, gimana kabarmu?"

"Hidup segan mati tak mau", Imron menjawab dengan getir, "ini bukan hidup, Mas Rudi ......... tidak bisa makan, hampir tidak boleh minum, bergantung hidup pada mesin selama berjam-jam, dan ketika prosedur yang kejam terlewati, aku malah merasa lebih buruk dari sebelumnya".

"Tapi .......", aku menyela, masih berusaha menunjukkan keceriaan palsu. "Paling nggak prosedur ini bisa buat kamu bergerak dan kamu bebas!"

"Yah, bebas!" Imron menjawab masam. "Bebas untuk pergi dari satu dialisis ke dialisis yang lain". Dia memberi isyarat ke arah kabel-kabel yang menghubungkan dirinya dengan mesin. "Aku berumur 25 tahun dan aku terpenjara disini!"

"Imron ....", aku berkata tanpa daya, "apa yang bisa aku lakukan?"

"Aku nggak bisa hidup seperti ini terus, Mas Rudi. Tolong bantu aku!", Imron menangis.

Aku bangun dengan keringat basah.

Aku berketetapan hati, tanpa memperdulikan kemarahan istriku dan perasaan takutku, untuk mendonorkan ginjal.

Ketika aku didorong ke dalam ruang operasi, dokter disisiku berbisik memberi semangat. "Anda berada di tangan-tangan yang ahli, Pak Rudi", dia berkata. "Anda telah membuat keputusan yang sepadan".

Esok paginya, aku bangun dengan kepala pusing dan melihat seorang dokter berdiri di sisi tempat tidurku.

"Selamat pagi, Pak Rudi!", dia berkata ceria. "Bagaimana perasaan anda ..... selain ketidaknyamanan normal setelah operasi?"

"Dok", aku merintih, "saya nggak tahu bagaimanakah yang normal itu, tapi saya cukup yakin kalo saya sangat kesakitan"

"Yaa ....... begini .......", sesaat dia sedikit ragu-ragu. "Saya harus memberitahu anda bahwa terjadi sesuatu yang tidak terduga terjadi selama operasi ....."

"Apa yang terjadi sama Imron?", aku bertanya cemas.

"Dia masih di dialisis, tapi jangan kuatir, kami masih memiliki donor lain untuknya"

Aku memandang dokter dengan bingung.

"Pak Rudi ....", dia memulai dengan pelan, saya sangsi anda pernah mendengar renal cell carcinoma". Aku menggelengkan kepala. "Itu adalah suatu bentuk tak tersembuhkan dari kanker", dia melanjutkan "pada hakekatnya selalu fatal"

"Apa maksud anda Imron .......", aku bertanya dengan senewen, jantungku berdebar, bahkan ketika dokter itu menyelaku di tengah-tengah kalimat.

"Tidak, Pak Imron, dia selamat ...... begitu juga anda. Hasil ultrasound anda menunjukkan dua ginjal yang sehat. Salah satu dari keduanya akan menyelamatkan saudara sepupu anda. Dan sewenang-wenang ............ demikian kami pikir ...... untuk menentukan yang mana yang kami pilih dari ginjal anda. Yang kami tahu, tangan-tangan kami dibimbing ke ginjal yang tepat ......... karena, Pak Rudi, sekali kami mengangkat ginjal kiri anda, mata telanjang kami mampu melihat apa yang tidak mampu ditunjukkan oleh ultrasound. Pada korteks ginjal kiri anda terdapat sebuah bintil kecil, bintil dari renal cell carcinoma. Jika anda memilih untuk tidak mendonorkan ginjal pada saudara sepupu anda, anda dapat meninggal dengan mudah dalam satu tahun dan jika ginjal itu tidak diperiksa sebagaimana mestinya, Pak Imron pasti telah meninggal karena kanker anda ...."

Aku terbengong mendengar penjelasan dokter.

"Pak Rudi, niat anda benar-benar sangat mulia. Anda berpikir anda menyelamatkan hidup saudara sepupu anda, tetapi itu berbalik, teman, Pak Imron-lah yang menyelamatkan hidup anda"

Baca Selengkapnya ....

Penelepon Mesum

Posted by Monsign Jumat, 07 November 2008 0 komentar

Dini hari, Dita terbangun dari tidur nyenyaknya oleh ringtone HP-nya yang nyaring dan tidak mau berhenti. Dengan malas-malasan, ia membuka matanya, meraih HP-nya dan melihat siapa yang menelepon dini hari begini. Di layar HP-nya tertulis nomer yang tidak dikenalnya, kemudian dia melihat jam didinding kamarnya, dan tercengang melihat bahwa saat itu baru jam tiga pagi.

"Sebaiknya ini kabar yang bagus", ia berpikir.

Dita menerima telepon itu.

Ternyata panggilan telepon yang tidak senonoh dari seseorang yang entah darimana asalnya.

Ia membanting HP-nya ke tempat tidurnya dengan marah dan menarik selimut ke atas kepalanya, bersiap kembali tidur.

Namun ia tidak dapat mengusir bahasa buruk atau saran cabul laki-laki itu dari kepalanya.

"Barangkali nggak baik buatku kalo terus-terusan melajang", ia berpikir.

Ia menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat tidur, tetapi itu benar-benar tidak ada gunanya. Ia tidak dapat kembali tidur. Kegelisahannya berasal dari telepon itu . Sambil berbisik ia terus mengutuki penelepon itu.

"Lebih baik bangun dan membuat secangkir teh", katanya.

Ia berjalan terhuyung-huyung menuju dapur, masih mengutuki penelepon itu, mengutuk Tuhan, mengutuk hidup, mengutuk alam semesta, mengutuk nasib, mengutuk apa saja yang terpikirkan karena mengacaukan tidur malamnya.

Tetapi pikirannya berubah saat ia menyalakan lampu. Jendela dapur, yang telah tertutup rapat sebelumnya, sekarang terbuka lebar. Sebilah pisau potong yang kelihatan jahat dan bukan miliknya tergeletak di meja dapur, bersama sebuah topeng ski penutup wajah serta seutas tali.

Ketika Dita berusaha memahami makna dari jendela yang terbuka dan barang-barang yang mengandung maksud jahat itu, ia merasa sesak didada dan tubuhnya gemetaran. Dalam bayangannya sudah jelas sekali, bahwa pada saat ia tertidur pulas, seorang penjahat telah masuk dengan paksa ke dalam rumah kontrakannya, dan penjahat itu sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan penyerangan.

Pada momen yang sangat tepat itu juga, Hp-nya berbunyi. Membangunkan ia dari tidurnya dan menakut-nakuti pikirannya, sekaligus menakut-nakuti sang penjahat, sehingga penjahat itu keluar dari rumah kontrakannya dengan meninggalkan barang-barangnya.

Dita berdiri terbengong dalam dapurnya.

"Terima kasih, Tuhan", katanya. "Dan terima kasih, Penelepon Mesum", ia menambahkan "aku mengutuk perbuatanmu, tapi ternyata keisenganmu yang menyelamatkan hidupku"

Baca Selengkapnya ....

Apa Kamu Paham yang Terjadi Disini?

Posted by Monsign Selasa, 04 November 2008 0 komentar

"Ok! Ok! Kita udah di jalan kok, kita ketemu disana 1 jam lagi, semua udah disiapin kan ......... halo ......... halo ............ halo ........... !? sialan baterai HP-ku abis, tadi lupa ngisi ........", seorang pemuda sambil mengemudikan mobilnya dengan kencang mengumpat menyesali kebodohannya, "kamu yakin HP kamu ketinggalan, Dre?"

Pemuda lain yang duduk disebelah kursi kemudi dengan nada kecewa menjawab, "yeah, gitu deh, habisnya kita tadi keenakan tidur seh, jadinya buru-buru gini"

Mereka berdua adalah Rahmat dan Andre. Mereka sedang dalam perjalanan dari kota Jember menuju pantai Watu Ulo, salah satu objek wisata pantai selatan di daerah Jember, Jawa Timur, dengan hamparan pasir putih dan bukit berbatu yang indah dan menakjubkan. Mereka berencana bertemu dengan teman-teman sekantornya yang sudah berangkat duluan, dan mereka menanti saat-saat makan ikan bakar di tepi pantai, mandi di tepi pantai, dan menikmati weekend mereka.

Namun, saat mereka melintasi jalanan Jember - Watu Ulo, mereka terganggu oleh serangkaian kecelakaan, kegentingan, dan masalah-masalah yang tidak biasa. Mereka seolah-olah tidak akan pernah tiba di tujuan.

Pertama, ban kempis. Mereka menepi di bahu jalan dan mengganti ban dengan cepat. "Tidak apa-apa", kata Rahmat, "Hanya lewat 15 menit, kita masih akan tiba tepat waktu"

Kemudian, setelah beristirahat beberapa saat, mereka memutar kunci, tetapi mesin mobil tidak bisa menyala. Lampu kecil merah mulai sebentar-sebentar menyala pada panel dasbor, dan Andre yang duduk di samping kemudi mendesah, "aku khawatir akinya soak, harus mencari seseorang yang memiliki kabel. Aku sendiri tak punya".

Makan waktu setengah jam untuk mencari orang lain yang memiliki kabel.

Ketika aki sudah disetrum ulang, mereka mempercepat laju di jalanan yang cukup ramai untuk mengejar waktu yang hilang. "Gak bakalan ada polisi disekitar sini", Rahmat meyakinkan Andre yang gelisah. "Mereka kan kerjanya cuma di tengah kota aja".

Ternyata mobil mereka dihentikan oleh seorang polisi yang sepertinya tidak menyadari ketergesaan mereka.

Makan waktu yang sangat lama untuk menulis surat tilang.

"Kita sudah telat satu jam!", kata Andre dengan halus. "Mereka nggak bakalan nungguin kita, dan kita terancam dapetin tulang belulang ikan neh"

"Tenang", Rahmat menenangkan, "udah dekat kok, sebentar lagi kita sampai di daerah Ambulu, kalo udah lewat Perempatan Ambulu, tinggal beberapa menit aja kita udah ketemu sama temen-temen"

Tetapi belum juga sampai Perempatan Ambulu, mobil tiba-tiba terbatuk-batuk dan mesin mati.

Kedua orang itu saling memandang.

"Ada apa lagi !?", seru Andre.

"Aneh !?", Rahmat menggelengkan kepala tidak percaya.

Makan waktu satu jam lebih untuk mencari montir terdekat yang mau memeriksa keadaan mobil mereka.

"Dre, besok ingatkan aku untuk protes sama bengkel langgananku, kita lihat bagaimana ketidakbecusan mereka bekerja!!", kata Rahmat jengkel.

"Pasti tali kipasnya", kata si montir. "kayaknya ini lama mas, butuh dua jam lebih lah"

"Aku nyerah!!", pekik Andre. "Kamu percaya kesialan kita hari ini? setelah mobil diperbaiki, kita pulang!!".

"Aku bukan orang yang gampang menyerah", Rahmat berkata dengan keras kepala. "Watu ulo tinggal 20 menitan dari sini, aku nggak mau berbalik arah sekarang, kita udah dekat. Kita tetep kesana, tanggung, siapa tahu mereka masih nunggu kita, kita masih punya waktu dua jam sebelum matahari terbenam. Lihat saja nanti", Rahmat berjanji pada Andre dengan nada optimis.

Setelah mereka tiba, terlambat empat jam, di tempat pertemuan yang telah disetujui, tempat itu sepi.

"Hari ini menjengkelkan", kata Andre pada Rahmat, "perjalanan kita sia-sia!"

"Tolong .....!!!", mereka tiba-tiba mendengar suara wanita berteriak.

"Tolong ......... Anakku .........Tolong!!", suara itu terdengar kembali lebih nyaring.

Karena kaget, Rahmat dan Andre tidak bergerak, pandangan mereka terpusat pada seorang wanita yang menjerit sambil menangis menunjuk-nunjuk ke arah laut. Terlihat di antara riak-riak ombak dua orang anak yang tampak mulai kelelahan berjuang untuk menepi ke pantai karena terseret arus ombak.

Rahmat dan Andre segera berlari menerjang ombak. Mereka sering sekali berolahraga renang hampir tiap minggunya, bahkan mereka sering berlomba ke pantai dan menyelam. Mereka menarik keluar anak-anak itu. Melakukan pertolongan pertama, dan menyelamatkan keduanya.

Sang ibu segera memeluk kedua anaknya yang baru tersadar tersebut, pengunjung lain pun yang masih tersisa di pantai Watu Ulo, yang sebelumnya berada jauh dari lokasi kejadian, segera menuntun mereka ke tempat pengurus pantai untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Sesudah itu, Rahmat yang masih tergunjang berbalik kepada Andre, bertanya dengan suara bergetar, "Apa kamu paham apa yang terjadi disini, Dre !?"

"Iya, Mat", Andre menjawab dengan muram, "aku sangat paham"

"Jika kita tiba tepat waktu di tempat ini, sudah pasti anak-anak itu akan mati ........."

Baca Selengkapnya ....

Cinta Sejati Terbawa Mati

Posted by Monsign Sabtu, 01 November 2008 0 komentar

Sejak menikah, Pak Siswandi tidak pernah bepergian kecuali dengan istrinya tercinta, Bu Atih.

Mereka adalah pasangan ningrat yang sangat dihormati di desanya. Bukan saja karena trah mereka yang bangsawan, tapi karena kebersahajaan dan keramahan mereka. Orang di kampung mereka, sebuah desa di Ciamis, tiap pagi melihat pasangan ini berolahraga. Meskipun usia Pak Siswandi sudah 60-an, perawakannya masih terlihat gagah. Demikian juga dengan Bu Atih, kecantikan wajahnya pada masa muda masih tersisa.

Pagi itu sepulang olahraga, Pak Siswandi dan Bu Atih menyalami semua tetangga.

"Memangnya mau kemana , Pak?" tanya salah seorang tetangganya.

"Mau nengokin cucu di Bandung," jawab Pak Siswandi.

"Tolong titip rumah ya , Bu", Bu Atih menimpali.

"Kayak bakal lama nih di Bandung, Bu Atih"

"Yaah agak lamaan gitu, habis kangen sama cucu"

"Sudah lama kita gak ketemu," Pak Siswandi menjelaskan.

Siang itu Pak Siswandi dan Bu Atih berangkat ke Bandung diantar sopir setianya, Pak Udin, yang sudah mengabdi kepada mereka hampir dua puluh tahun. Bahkan, kedua anak Pak Udin dibiayai sekolah oleh Pak Siswandi hingga selesai SMA. Tadi sebelum berangkat, Pak Siswandi sempat berkelakar dengan Bu Neneng, istri Pak Udin, yang tinggal di paviliun rumahnya.

"Bu Neneng, kalau nanti Pak Udin kelamaan di Bandung, susul aja yah, paksa dia pulang....."

"Yaaah ....... palingan kecantol mojang Bandung"

"Kalau kecantol, tarik aja Bu Neneng, biar dia jatuh"

"Saya lari dong", Pak Udin membalas kelakar Pak Siswandi. Bu Neneng hanya senyum mendengar guyon dua orang tua itu.

Sepanjang jalan desa, tetangga-tetangga Pak Siswandi melambaikan tangan melepas kepergian mereka. Ini mengingatkan saat mereka mau berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu. Memang Pak Siswandi oleh masyarakat desanya dianggap sebagai sesepuh. Orang yang dituakan, yang pendapat, nasehat, serta sarannya sangat dinanti dan didengar warga, juga aparat desa.

Kira-kira menjelang magrib, Bu Neneng menerima telepon dari kantor polisi yang mengabarkan bahwa mobil yang ditumpangi Pak Siswandi dan keluarganya mengalami kecelakaan di Cadas Pangeran. Pak Siswandi dan Bu Atih meninggal di tempat, sedangkan Pak Udin dalam keadaan kritis di rumah sakit. Bu Neneng terkesiap. Lututnya terasa tak bertulang. Air mata berurai deras dipipinya. Kendati demikian, dia kuatkan juga menghubungi anak Pak Siswandi yang di Bandung untuk mengabarkan peristiwa tragis itu.

Sejak menikah, Pak Siswandi tidak pernah bepergian kecuali dengan istrinya tercinta, Bu Atih.

Mereka selalu terlihat berdua. Bahkan, saat wafat pun mereka berdua. Cinta mereka abadi dan terbawa mati. Mati bersama .........

Baca Selengkapnya ....
Template by Cara Membuat Email | Copyright of My Sunset.