Cinta Sejati Terbawa Mati
Sabtu, 01 November 2008
0
komentar
Sejak menikah, Pak Siswandi tidak pernah bepergian kecuali dengan istrinya tercinta, Bu Atih.
Mereka adalah pasangan ningrat yang sangat dihormati di desanya. Bukan saja karena trah mereka yang bangsawan, tapi karena kebersahajaan dan keramahan mereka. Orang di kampung mereka, sebuah desa di Ciamis, tiap pagi melihat pasangan ini berolahraga. Meskipun usia Pak Siswandi sudah 60-an, perawakannya masih terlihat gagah. Demikian juga dengan Bu Atih, kecantikan wajahnya pada masa muda masih tersisa.
Pagi itu sepulang olahraga, Pak Siswandi dan Bu Atih menyalami semua tetangga.
"Memangnya mau kemana , Pak?" tanya salah seorang tetangganya.
"Mau nengokin cucu di Bandung," jawab Pak Siswandi.
"Tolong titip rumah ya , Bu", Bu Atih menimpali.
"Kayak bakal lama nih di Bandung, Bu Atih"
"Yaah agak lamaan gitu, habis kangen sama cucu"
"Sudah lama kita gak ketemu," Pak Siswandi menjelaskan.
Siang itu Pak Siswandi dan Bu Atih berangkat ke Bandung diantar sopir setianya, Pak Udin, yang sudah mengabdi kepada mereka hampir dua puluh tahun. Bahkan, kedua anak Pak Udin dibiayai sekolah oleh Pak Siswandi hingga selesai SMA. Tadi sebelum berangkat, Pak Siswandi sempat berkelakar dengan Bu Neneng, istri Pak Udin, yang tinggal di paviliun rumahnya.
"Bu Neneng, kalau nanti Pak Udin kelamaan di Bandung, susul aja yah, paksa dia pulang....."
"Yaaah ....... palingan kecantol mojang Bandung"
"Kalau kecantol, tarik aja Bu Neneng, biar dia jatuh"
"Saya lari dong", Pak Udin membalas kelakar Pak Siswandi. Bu Neneng hanya senyum mendengar guyon dua orang tua itu.
Sepanjang jalan desa, tetangga-tetangga Pak Siswandi melambaikan tangan melepas kepergian mereka. Ini mengingatkan saat mereka mau berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu. Memang Pak Siswandi oleh masyarakat desanya dianggap sebagai sesepuh. Orang yang dituakan, yang pendapat, nasehat, serta sarannya sangat dinanti dan didengar warga, juga aparat desa.
Kira-kira menjelang magrib, Bu Neneng menerima telepon dari kantor polisi yang mengabarkan bahwa mobil yang ditumpangi Pak Siswandi dan keluarganya mengalami kecelakaan di Cadas Pangeran. Pak Siswandi dan Bu Atih meninggal di tempat, sedangkan Pak Udin dalam keadaan kritis di rumah sakit. Bu Neneng terkesiap. Lututnya terasa tak bertulang. Air mata berurai deras dipipinya. Kendati demikian, dia kuatkan juga menghubungi anak Pak Siswandi yang di Bandung untuk mengabarkan peristiwa tragis itu.
Sejak menikah, Pak Siswandi tidak pernah bepergian kecuali dengan istrinya tercinta, Bu Atih.
Mereka selalu terlihat berdua. Bahkan, saat wafat pun mereka berdua. Cinta mereka abadi dan terbawa mati. Mati bersama .........
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Cinta Sejati Terbawa Mati
Ditulis oleh Monsign
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://sunsetq.blogspot.com/2008/11/blog-post.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Monsign
Rating Blog 5 dari 5







0 komentar:
Posting Komentar