Penelepon Mesum
Jumat, 07 November 2008
0
komentar

Dini hari, Dita terbangun dari tidur nyenyaknya oleh ringtone HP-nya yang nyaring dan tidak mau berhenti. Dengan malas-malasan, ia membuka matanya, meraih HP-nya dan melihat siapa yang menelepon dini hari begini. Di layar HP-nya tertulis nomer yang tidak dikenalnya, kemudian dia melihat jam didinding kamarnya, dan tercengang melihat bahwa saat itu baru jam tiga pagi.
"Sebaiknya ini kabar yang bagus", ia berpikir.
Dita menerima telepon itu.
Ternyata panggilan telepon yang tidak senonoh dari seseorang yang entah darimana asalnya.
Ia membanting HP-nya ke tempat tidurnya dengan marah dan menarik selimut ke atas kepalanya, bersiap kembali tidur.
Namun ia tidak dapat mengusir bahasa buruk atau saran cabul laki-laki itu dari kepalanya.
"Barangkali nggak baik buatku kalo terus-terusan melajang", ia berpikir.
Ia menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat tidur, tetapi itu benar-benar tidak ada gunanya. Ia tidak dapat kembali tidur. Kegelisahannya berasal dari telepon itu . Sambil berbisik ia terus mengutuki penelepon itu.
"Lebih baik bangun dan membuat secangkir teh", katanya.
Ia berjalan terhuyung-huyung menuju dapur, masih mengutuki penelepon itu, mengutuk Tuhan, mengutuk hidup, mengutuk alam semesta, mengutuk nasib, mengutuk apa saja yang terpikirkan karena mengacaukan tidur malamnya.
Tetapi pikirannya berubah saat ia menyalakan lampu. Jendela dapur, yang telah tertutup rapat sebelumnya, sekarang terbuka lebar. Sebilah pisau potong yang kelihatan jahat dan bukan miliknya tergeletak di meja dapur, bersama sebuah topeng ski penutup wajah serta seutas tali.
Ketika Dita berusaha memahami makna dari jendela yang terbuka dan barang-barang yang mengandung maksud jahat itu, ia merasa sesak didada dan tubuhnya gemetaran. Dalam bayangannya sudah jelas sekali, bahwa pada saat ia tertidur pulas, seorang penjahat telah masuk dengan paksa ke dalam rumah kontrakannya, dan penjahat itu sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan penyerangan.
Pada momen yang sangat tepat itu juga, Hp-nya berbunyi. Membangunkan ia dari tidurnya dan menakut-nakuti pikirannya, sekaligus menakut-nakuti sang penjahat, sehingga penjahat itu keluar dari rumah kontrakannya dengan meninggalkan barang-barangnya.
Dita berdiri terbengong dalam dapurnya.
"Terima kasih, Tuhan", katanya. "Dan terima kasih, Penelepon Mesum", ia menambahkan "aku mengutuk perbuatanmu, tapi ternyata keisenganmu yang menyelamatkan hidupku"
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Penelepon Mesum
Ditulis oleh Monsign
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://sunsetq.blogspot.com/2008/11/penelepon-mesum.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Monsign
Rating Blog 5 dari 5







0 komentar:
Posting Komentar