Tidak Semua Cerita Heppy Ending

Posted by Monsign Kamis, 25 Desember 2008 0 komentar


Rusli pertama kali bertemu dengan si rambut panjang di sebuah bengkel mobil yang letaknya di antara jalan Pasuruan - Malang. Entah kenapa mobil mereka sama-sama bermasalah hampir bersamaan di dekat bengkel itu. Rusli berusaha mengajak bicara si rambut panjang dengan penuh semangat, berharap gadis itu tertarik kepadanya seperti dia tertarik kepada gadis itu.

Tapi, gadis itu tidak tertarik.

Ketika Rusli meminta no HP-nya, gadis itu menolak dengan sopan.

Rusli mengangkat bahunya dengan kecewa, tapi dia menerima penolakan itu dengan baik. Setidaknya dia sudah berusaha. Dia tidak akan pernah bertemu dengan gadis itu lagi.

Dia salah.

Satu bulan kemudian, Rusli mengenali sebuah mobil yang diparkir di pinggir jalan, mobil itu dipasangi tanda yang menandakan ada masalah. Dia berhenti untuk menawarkan bantuan.

Pemilik mobil itu adalah si rambut panjang.

Sekali lagi, dia merasakan ketertarikan yang sangat kuat terhadap gadis itu. Sekali lagi dia meminta no HP-nya. Dan sekali lagi, dengan mengabaikan kebaikannya (dan keterampilan mekanisnya, karena dia mampu memperbaiki mobil itu), si rambut panjang dengan kasar menolak. Sekali lagi, Rusli menerima penolakan dengan baik dan mereka berpisah jalan.

Tetapi tidak lama.

Satu tahun kemudian, di sebuah jalan pada bagian kota yang berbeda, Rusli terpaku oleh sebuah pemandangan mobil yang terbakar. Dia menepi dengan cepat dibelakang mobil yang terbakar itu, dan menemukan bahwa mobil tersebut milik seseorang yang tidak lain adalah ...... si rambut panjang.

Hal serupa terjadi kembali. Rusli berhasil mematikan api, dan kemudian meminta no HP-nya. Sekali lagi, si rambut panjang berkata tidak.

Dua tahun kemudian, di sebuah jalan tol, Rusli berhenti untuk membantu korban-korban kecelakaan beruntun. Kejutan! Salah satu korban adalah ........ si rambut panjang.

Kali ini si rambut panjang terkesan dengan kebetulan-kebetulan yang mempertemukan mereka, akhirnya gadis itu setuju untuk memberikan nomer HP-nya.

Mereka mengatur waktu untuk bertemu di sebuah restoran, Rusli pun senang.

Namun kesenangannya hanya berumur pendek.

Si rambut panjang tidak pernah muncul, no HP-nya pun tidak aktif. Setelah menunggu lebih dari dua jam di tempat dan waktu yang telah disepakati, Rusli akhirnya menyimpulkan bahwa si rambut panjang "tidak akan pernah datang" dan menolaknya lagi.

Setelah itu, Rusli menolak berhenti di lokasi kecelakaan mana pun. Dan sejak itu, Rusli tidak pernah bertemu lagi dengan si rambut panjang.

Baca Selengkapnya ....

Keputusan Besar

Posted by Monsign Sabtu, 08 November 2008 0 komentar

"Gagal ginjal kronis", para dokter memberitahu saudara sepupuku, Imron, yang terhubung dengan mesin-mesin dialisis selama lebih dari empat tahun, tetapi keadaannya memburuk dengan cepat. "Satu-satunya harapan Anda adalah cangkok ginjal". Aku, diantara beberapa sanak saudara yang lain, diminta memberikan sampel darah untuk melihat apakah bisa dijadikan donor. Aku terguncang saat mengetahui bahwa akulah satu-satunya donor yang sempurna.

Telepon dari rumah sakit datang di tengah pesta ulang tahun putriku yang genap empat tahun. Istriku, saat ini sedang mengandung delapan bulan anak kedua kami, memandang ingin tahu ketika aku menutup telepon. Dia telah menangkap sesuatu dari percakapan bisu itu dan jawabanku. Aku tidak ingin merusak pesta demi dia dan putriku.

"ada apa?", dia bertanya.

"Jangan sekarang", aku berkata sambil melirik pada anak kami dan kue ulang tahunnya.

Jam sembilan malam, putri kami sudah tertidur di kamarnya. Aku membantu istriku membereskan sisa-sisa pesta ulang tahun putriku. Ketika kami mencuci piring kotor bersama di dapur, aku pun menceritakan perihal telepon dari rumah sakit.

"Ini benar-benar sangat berat, Mas", dia berkata, tertekan. "Dapatkah kita mempertimbangkan dulu?"

"Imron nggak memiliki banyak waktu, Dik. Aku bilang sama dokter kalo aku mau kasih jawaban besok".

"Besok!?", dia terpekik, geram. "Mas pikir ...... ginjal Mas itu ban cadangan? Gimana jika tiba-tiba nanti Mas sendiri membutuhkan ginjal? Apa orang-orang di sekitar Mas rela kasih ginjalnya satu buat Mas?"

"Dik.....", aku berkata. "Ini juga nggak mudah buat aku. Pecayalah, aku juga takut sekali, aku ragu-ragu. Jika mau jujur, aku akan mengakui aku akan sangat lega kalo aku bukan donor yang cocok, tapi faktanya lain".

"Mas....", dia berkata mantap, "ini pembedahan besar dengan resiko serius. Aku nggak ijinkan Mas melakukannya!".

"Imron sudah seperti adik kandungku sendiri, Dik. Itu bukanlah sesuatu yang ingin aku lakukan. Ini sesuatu yang harus aku lakukan. Apa kehidupanku akan tenang kalo aku mengingkari hak Imron untuk hidup?"

"Ini keputusan besar, Mas, yang melibatkan kita. Mas mempunyai keluarga sekarang dan tanggung jawab pada keluarga ini!"

"Dik .......", aku bicara dengan lembut, "aku sungguh-sungguh harus melakukannya"

"Aku nggak akan ijinkan Mas melakukan hal itu. Aku nggak bisa membiarkan Mas mengambil resiko besar!" Dia mengamuk keluar ruangan, matanya sedingin es, dagunya menunjukkan ketetapan hati.

Sebagian dari diriku ingin luluh pada permintaannya dan mengabulkannya. Aku tidak dapat menyalahkannya ..... "Maaf, tetapi seperti yang kamu ketahui, istrimu sebentar lagi akan melahirkan dan dia tidak mengijinkanmu untuk ........" lamunku. Tetapi bagian lain dari diriku tidak mau menerima skenario itu, malu.

Malam itu, aku menghempaskan diri di ranjang, dalam tidur yang tidak nyenyak, menderita sekali memikirkan apa yang harus dilakukan. Lantas aku bermimpi, di dalam mimpi aku mengunjungi Imron di rumah sakit.

Aku berjalan masuk, berusaha memasang wajah ceria sebelum masuk dan menyapa dengan bermuka dua, bersikap akrab, "Hei, bro, gimana kabarmu?"

"Hidup segan mati tak mau", Imron menjawab dengan getir, "ini bukan hidup, Mas Rudi ......... tidak bisa makan, hampir tidak boleh minum, bergantung hidup pada mesin selama berjam-jam, dan ketika prosedur yang kejam terlewati, aku malah merasa lebih buruk dari sebelumnya".

"Tapi .......", aku menyela, masih berusaha menunjukkan keceriaan palsu. "Paling nggak prosedur ini bisa buat kamu bergerak dan kamu bebas!"

"Yah, bebas!" Imron menjawab masam. "Bebas untuk pergi dari satu dialisis ke dialisis yang lain". Dia memberi isyarat ke arah kabel-kabel yang menghubungkan dirinya dengan mesin. "Aku berumur 25 tahun dan aku terpenjara disini!"

"Imron ....", aku berkata tanpa daya, "apa yang bisa aku lakukan?"

"Aku nggak bisa hidup seperti ini terus, Mas Rudi. Tolong bantu aku!", Imron menangis.

Aku bangun dengan keringat basah.

Aku berketetapan hati, tanpa memperdulikan kemarahan istriku dan perasaan takutku, untuk mendonorkan ginjal.

Ketika aku didorong ke dalam ruang operasi, dokter disisiku berbisik memberi semangat. "Anda berada di tangan-tangan yang ahli, Pak Rudi", dia berkata. "Anda telah membuat keputusan yang sepadan".

Esok paginya, aku bangun dengan kepala pusing dan melihat seorang dokter berdiri di sisi tempat tidurku.

"Selamat pagi, Pak Rudi!", dia berkata ceria. "Bagaimana perasaan anda ..... selain ketidaknyamanan normal setelah operasi?"

"Dok", aku merintih, "saya nggak tahu bagaimanakah yang normal itu, tapi saya cukup yakin kalo saya sangat kesakitan"

"Yaa ....... begini .......", sesaat dia sedikit ragu-ragu. "Saya harus memberitahu anda bahwa terjadi sesuatu yang tidak terduga terjadi selama operasi ....."

"Apa yang terjadi sama Imron?", aku bertanya cemas.

"Dia masih di dialisis, tapi jangan kuatir, kami masih memiliki donor lain untuknya"

Aku memandang dokter dengan bingung.

"Pak Rudi ....", dia memulai dengan pelan, saya sangsi anda pernah mendengar renal cell carcinoma". Aku menggelengkan kepala. "Itu adalah suatu bentuk tak tersembuhkan dari kanker", dia melanjutkan "pada hakekatnya selalu fatal"

"Apa maksud anda Imron .......", aku bertanya dengan senewen, jantungku berdebar, bahkan ketika dokter itu menyelaku di tengah-tengah kalimat.

"Tidak, Pak Imron, dia selamat ...... begitu juga anda. Hasil ultrasound anda menunjukkan dua ginjal yang sehat. Salah satu dari keduanya akan menyelamatkan saudara sepupu anda. Dan sewenang-wenang ............ demikian kami pikir ...... untuk menentukan yang mana yang kami pilih dari ginjal anda. Yang kami tahu, tangan-tangan kami dibimbing ke ginjal yang tepat ......... karena, Pak Rudi, sekali kami mengangkat ginjal kiri anda, mata telanjang kami mampu melihat apa yang tidak mampu ditunjukkan oleh ultrasound. Pada korteks ginjal kiri anda terdapat sebuah bintil kecil, bintil dari renal cell carcinoma. Jika anda memilih untuk tidak mendonorkan ginjal pada saudara sepupu anda, anda dapat meninggal dengan mudah dalam satu tahun dan jika ginjal itu tidak diperiksa sebagaimana mestinya, Pak Imron pasti telah meninggal karena kanker anda ...."

Aku terbengong mendengar penjelasan dokter.

"Pak Rudi, niat anda benar-benar sangat mulia. Anda berpikir anda menyelamatkan hidup saudara sepupu anda, tetapi itu berbalik, teman, Pak Imron-lah yang menyelamatkan hidup anda"

Baca Selengkapnya ....

Penelepon Mesum

Posted by Monsign Jumat, 07 November 2008 0 komentar

Dini hari, Dita terbangun dari tidur nyenyaknya oleh ringtone HP-nya yang nyaring dan tidak mau berhenti. Dengan malas-malasan, ia membuka matanya, meraih HP-nya dan melihat siapa yang menelepon dini hari begini. Di layar HP-nya tertulis nomer yang tidak dikenalnya, kemudian dia melihat jam didinding kamarnya, dan tercengang melihat bahwa saat itu baru jam tiga pagi.

"Sebaiknya ini kabar yang bagus", ia berpikir.

Dita menerima telepon itu.

Ternyata panggilan telepon yang tidak senonoh dari seseorang yang entah darimana asalnya.

Ia membanting HP-nya ke tempat tidurnya dengan marah dan menarik selimut ke atas kepalanya, bersiap kembali tidur.

Namun ia tidak dapat mengusir bahasa buruk atau saran cabul laki-laki itu dari kepalanya.

"Barangkali nggak baik buatku kalo terus-terusan melajang", ia berpikir.

Ia menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat tidur, tetapi itu benar-benar tidak ada gunanya. Ia tidak dapat kembali tidur. Kegelisahannya berasal dari telepon itu . Sambil berbisik ia terus mengutuki penelepon itu.

"Lebih baik bangun dan membuat secangkir teh", katanya.

Ia berjalan terhuyung-huyung menuju dapur, masih mengutuki penelepon itu, mengutuk Tuhan, mengutuk hidup, mengutuk alam semesta, mengutuk nasib, mengutuk apa saja yang terpikirkan karena mengacaukan tidur malamnya.

Tetapi pikirannya berubah saat ia menyalakan lampu. Jendela dapur, yang telah tertutup rapat sebelumnya, sekarang terbuka lebar. Sebilah pisau potong yang kelihatan jahat dan bukan miliknya tergeletak di meja dapur, bersama sebuah topeng ski penutup wajah serta seutas tali.

Ketika Dita berusaha memahami makna dari jendela yang terbuka dan barang-barang yang mengandung maksud jahat itu, ia merasa sesak didada dan tubuhnya gemetaran. Dalam bayangannya sudah jelas sekali, bahwa pada saat ia tertidur pulas, seorang penjahat telah masuk dengan paksa ke dalam rumah kontrakannya, dan penjahat itu sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan penyerangan.

Pada momen yang sangat tepat itu juga, Hp-nya berbunyi. Membangunkan ia dari tidurnya dan menakut-nakuti pikirannya, sekaligus menakut-nakuti sang penjahat, sehingga penjahat itu keluar dari rumah kontrakannya dengan meninggalkan barang-barangnya.

Dita berdiri terbengong dalam dapurnya.

"Terima kasih, Tuhan", katanya. "Dan terima kasih, Penelepon Mesum", ia menambahkan "aku mengutuk perbuatanmu, tapi ternyata keisenganmu yang menyelamatkan hidupku"

Baca Selengkapnya ....

Apa Kamu Paham yang Terjadi Disini?

Posted by Monsign Selasa, 04 November 2008 0 komentar

"Ok! Ok! Kita udah di jalan kok, kita ketemu disana 1 jam lagi, semua udah disiapin kan ......... halo ......... halo ............ halo ........... !? sialan baterai HP-ku abis, tadi lupa ngisi ........", seorang pemuda sambil mengemudikan mobilnya dengan kencang mengumpat menyesali kebodohannya, "kamu yakin HP kamu ketinggalan, Dre?"

Pemuda lain yang duduk disebelah kursi kemudi dengan nada kecewa menjawab, "yeah, gitu deh, habisnya kita tadi keenakan tidur seh, jadinya buru-buru gini"

Mereka berdua adalah Rahmat dan Andre. Mereka sedang dalam perjalanan dari kota Jember menuju pantai Watu Ulo, salah satu objek wisata pantai selatan di daerah Jember, Jawa Timur, dengan hamparan pasir putih dan bukit berbatu yang indah dan menakjubkan. Mereka berencana bertemu dengan teman-teman sekantornya yang sudah berangkat duluan, dan mereka menanti saat-saat makan ikan bakar di tepi pantai, mandi di tepi pantai, dan menikmati weekend mereka.

Namun, saat mereka melintasi jalanan Jember - Watu Ulo, mereka terganggu oleh serangkaian kecelakaan, kegentingan, dan masalah-masalah yang tidak biasa. Mereka seolah-olah tidak akan pernah tiba di tujuan.

Pertama, ban kempis. Mereka menepi di bahu jalan dan mengganti ban dengan cepat. "Tidak apa-apa", kata Rahmat, "Hanya lewat 15 menit, kita masih akan tiba tepat waktu"

Kemudian, setelah beristirahat beberapa saat, mereka memutar kunci, tetapi mesin mobil tidak bisa menyala. Lampu kecil merah mulai sebentar-sebentar menyala pada panel dasbor, dan Andre yang duduk di samping kemudi mendesah, "aku khawatir akinya soak, harus mencari seseorang yang memiliki kabel. Aku sendiri tak punya".

Makan waktu setengah jam untuk mencari orang lain yang memiliki kabel.

Ketika aki sudah disetrum ulang, mereka mempercepat laju di jalanan yang cukup ramai untuk mengejar waktu yang hilang. "Gak bakalan ada polisi disekitar sini", Rahmat meyakinkan Andre yang gelisah. "Mereka kan kerjanya cuma di tengah kota aja".

Ternyata mobil mereka dihentikan oleh seorang polisi yang sepertinya tidak menyadari ketergesaan mereka.

Makan waktu yang sangat lama untuk menulis surat tilang.

"Kita sudah telat satu jam!", kata Andre dengan halus. "Mereka nggak bakalan nungguin kita, dan kita terancam dapetin tulang belulang ikan neh"

"Tenang", Rahmat menenangkan, "udah dekat kok, sebentar lagi kita sampai di daerah Ambulu, kalo udah lewat Perempatan Ambulu, tinggal beberapa menit aja kita udah ketemu sama temen-temen"

Tetapi belum juga sampai Perempatan Ambulu, mobil tiba-tiba terbatuk-batuk dan mesin mati.

Kedua orang itu saling memandang.

"Ada apa lagi !?", seru Andre.

"Aneh !?", Rahmat menggelengkan kepala tidak percaya.

Makan waktu satu jam lebih untuk mencari montir terdekat yang mau memeriksa keadaan mobil mereka.

"Dre, besok ingatkan aku untuk protes sama bengkel langgananku, kita lihat bagaimana ketidakbecusan mereka bekerja!!", kata Rahmat jengkel.

"Pasti tali kipasnya", kata si montir. "kayaknya ini lama mas, butuh dua jam lebih lah"

"Aku nyerah!!", pekik Andre. "Kamu percaya kesialan kita hari ini? setelah mobil diperbaiki, kita pulang!!".

"Aku bukan orang yang gampang menyerah", Rahmat berkata dengan keras kepala. "Watu ulo tinggal 20 menitan dari sini, aku nggak mau berbalik arah sekarang, kita udah dekat. Kita tetep kesana, tanggung, siapa tahu mereka masih nunggu kita, kita masih punya waktu dua jam sebelum matahari terbenam. Lihat saja nanti", Rahmat berjanji pada Andre dengan nada optimis.

Setelah mereka tiba, terlambat empat jam, di tempat pertemuan yang telah disetujui, tempat itu sepi.

"Hari ini menjengkelkan", kata Andre pada Rahmat, "perjalanan kita sia-sia!"

"Tolong .....!!!", mereka tiba-tiba mendengar suara wanita berteriak.

"Tolong ......... Anakku .........Tolong!!", suara itu terdengar kembali lebih nyaring.

Karena kaget, Rahmat dan Andre tidak bergerak, pandangan mereka terpusat pada seorang wanita yang menjerit sambil menangis menunjuk-nunjuk ke arah laut. Terlihat di antara riak-riak ombak dua orang anak yang tampak mulai kelelahan berjuang untuk menepi ke pantai karena terseret arus ombak.

Rahmat dan Andre segera berlari menerjang ombak. Mereka sering sekali berolahraga renang hampir tiap minggunya, bahkan mereka sering berlomba ke pantai dan menyelam. Mereka menarik keluar anak-anak itu. Melakukan pertolongan pertama, dan menyelamatkan keduanya.

Sang ibu segera memeluk kedua anaknya yang baru tersadar tersebut, pengunjung lain pun yang masih tersisa di pantai Watu Ulo, yang sebelumnya berada jauh dari lokasi kejadian, segera menuntun mereka ke tempat pengurus pantai untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Sesudah itu, Rahmat yang masih tergunjang berbalik kepada Andre, bertanya dengan suara bergetar, "Apa kamu paham apa yang terjadi disini, Dre !?"

"Iya, Mat", Andre menjawab dengan muram, "aku sangat paham"

"Jika kita tiba tepat waktu di tempat ini, sudah pasti anak-anak itu akan mati ........."

Baca Selengkapnya ....

Cinta Sejati Terbawa Mati

Posted by Monsign Sabtu, 01 November 2008 0 komentar

Sejak menikah, Pak Siswandi tidak pernah bepergian kecuali dengan istrinya tercinta, Bu Atih.

Mereka adalah pasangan ningrat yang sangat dihormati di desanya. Bukan saja karena trah mereka yang bangsawan, tapi karena kebersahajaan dan keramahan mereka. Orang di kampung mereka, sebuah desa di Ciamis, tiap pagi melihat pasangan ini berolahraga. Meskipun usia Pak Siswandi sudah 60-an, perawakannya masih terlihat gagah. Demikian juga dengan Bu Atih, kecantikan wajahnya pada masa muda masih tersisa.

Pagi itu sepulang olahraga, Pak Siswandi dan Bu Atih menyalami semua tetangga.

"Memangnya mau kemana , Pak?" tanya salah seorang tetangganya.

"Mau nengokin cucu di Bandung," jawab Pak Siswandi.

"Tolong titip rumah ya , Bu", Bu Atih menimpali.

"Kayak bakal lama nih di Bandung, Bu Atih"

"Yaah agak lamaan gitu, habis kangen sama cucu"

"Sudah lama kita gak ketemu," Pak Siswandi menjelaskan.

Siang itu Pak Siswandi dan Bu Atih berangkat ke Bandung diantar sopir setianya, Pak Udin, yang sudah mengabdi kepada mereka hampir dua puluh tahun. Bahkan, kedua anak Pak Udin dibiayai sekolah oleh Pak Siswandi hingga selesai SMA. Tadi sebelum berangkat, Pak Siswandi sempat berkelakar dengan Bu Neneng, istri Pak Udin, yang tinggal di paviliun rumahnya.

"Bu Neneng, kalau nanti Pak Udin kelamaan di Bandung, susul aja yah, paksa dia pulang....."

"Yaaah ....... palingan kecantol mojang Bandung"

"Kalau kecantol, tarik aja Bu Neneng, biar dia jatuh"

"Saya lari dong", Pak Udin membalas kelakar Pak Siswandi. Bu Neneng hanya senyum mendengar guyon dua orang tua itu.

Sepanjang jalan desa, tetangga-tetangga Pak Siswandi melambaikan tangan melepas kepergian mereka. Ini mengingatkan saat mereka mau berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu. Memang Pak Siswandi oleh masyarakat desanya dianggap sebagai sesepuh. Orang yang dituakan, yang pendapat, nasehat, serta sarannya sangat dinanti dan didengar warga, juga aparat desa.

Kira-kira menjelang magrib, Bu Neneng menerima telepon dari kantor polisi yang mengabarkan bahwa mobil yang ditumpangi Pak Siswandi dan keluarganya mengalami kecelakaan di Cadas Pangeran. Pak Siswandi dan Bu Atih meninggal di tempat, sedangkan Pak Udin dalam keadaan kritis di rumah sakit. Bu Neneng terkesiap. Lututnya terasa tak bertulang. Air mata berurai deras dipipinya. Kendati demikian, dia kuatkan juga menghubungi anak Pak Siswandi yang di Bandung untuk mengabarkan peristiwa tragis itu.

Sejak menikah, Pak Siswandi tidak pernah bepergian kecuali dengan istrinya tercinta, Bu Atih.

Mereka selalu terlihat berdua. Bahkan, saat wafat pun mereka berdua. Cinta mereka abadi dan terbawa mati. Mati bersama .........

Baca Selengkapnya ....

Kisah Cinta yang Menyakitkan

Posted by Monsign Jumat, 31 Oktober 2008 0 komentar

Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman. Siti menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Imam . Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri.

TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Imam tidak merasakan hal yang sama,takut kalau Imam tidak menerimanya sebagai temannya lagi,takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Imam dan dengan harapan, bahwa Imam lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Siti.

Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Imam dan Siti pergi ke arah yang berlainan. Imam melanjutkan studinya ke keluar negeri,sedangkan Siti mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat,saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Siti merindukan Imam akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Imam bagaimana perasaan cintanya, jika Imam kembali.

Dan tiba-tiba, surat dari Imam terhenti. Siti menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban.

di mana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Siti tetap berharap bahwa Imam akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat.Dan doanya terkabul.

Dia menerima surat dari Imam , mengatakan…! ” Siti, aku punya kejutan untukmu…temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Imam”

Siti berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu.

Ketika harinya telah tiba, Siti menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Imam kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Imam . Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.

Dia begitu perhatian melihat Siti, “Hai! Aku Angie, temannya Imam.Kamu Siti?” tanyanya. Siti menganggukkan kepala. “Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Imam tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi,” kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Siti.

Siti tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah terjadi?? Siti bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat. “di mana Imam ? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku…” Siti memohon kepada si wanita.

Si wanita melihat dengan cermat ke Siti dan dia menepuk pundak Siti dan mengatakan, “ALAMAK SITI… INI IKE IMAM…APAKAH IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH….AIH……YEY NGGAK BISA NGENALIN IKE LAGI YAH??? IHHH…SEBEL DEH…..!!!”

Dan kemudian Siti langsung pingsan…

Baca Selengkapnya ....

100 Hari Saja

Posted by Monsign Kamis, 02 Oktober 2008 0 komentar

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.
Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."
Peter: "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang." (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"
Peter: "Eh? permainan apaan?"
Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"
Peter: "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."
Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"
Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus"
Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."
Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)
Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.
Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter.
Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya.
Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.
Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh.
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.
Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.
Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.
Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.
Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.
Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.
Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang" kemudian peramal itu meneteskan air mata.
Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai.
Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka.
Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.
Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.
15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.
15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.
Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput.
Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.
Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.
23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"
Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...


Baca Selengkapnya ....
Template by Cara Membuat Email | Copyright of My Sunset.