
"Gagal ginjal kronis", para dokter memberitahu saudara sepupuku, Imron, yang terhubung dengan mesin-mesin dialisis selama lebih dari empat tahun, tetapi keadaannya memburuk dengan cepat. "Satu-satunya harapan Anda adalah cangkok ginjal". Aku, diantara beberapa sanak saudara yang lain, diminta memberikan sampel darah untuk melihat apakah bisa dijadikan donor. Aku terguncang saat mengetahui bahwa akulah satu-satunya donor yang sempurna.
Telepon dari rumah sakit datang di tengah pesta ulang tahun putriku yang genap empat tahun. Istriku, saat ini sedang mengandung delapan bulan anak kedua kami, memandang ingin tahu ketika aku menutup telepon. Dia telah menangkap sesuatu dari percakapan bisu itu dan jawabanku. Aku tidak ingin merusak pesta demi dia dan putriku.
"ada apa?", dia bertanya.
"Jangan sekarang", aku berkata sambil melirik pada anak kami dan kue ulang tahunnya.
Jam sembilan malam, putri kami sudah tertidur di kamarnya. Aku membantu istriku membereskan sisa-sisa pesta ulang tahun putriku. Ketika kami mencuci piring kotor bersama di dapur, aku pun menceritakan perihal telepon dari rumah sakit.
"Ini benar-benar sangat berat, Mas", dia berkata, tertekan. "Dapatkah kita mempertimbangkan dulu?"
"Imron nggak memiliki banyak waktu, Dik. Aku bilang sama dokter kalo aku mau kasih jawaban besok".
"Besok!?", dia terpekik, geram. "Mas pikir ...... ginjal Mas itu ban cadangan? Gimana jika tiba-tiba nanti Mas sendiri membutuhkan ginjal? Apa orang-orang di sekitar Mas rela kasih ginjalnya satu buat Mas?"
"Dik.....", aku berkata. "Ini juga nggak mudah buat aku. Pecayalah, aku juga takut sekali, aku ragu-ragu. Jika mau jujur, aku akan mengakui aku akan sangat lega kalo aku bukan donor yang cocok, tapi faktanya lain".
"Mas....", dia berkata mantap, "ini pembedahan besar dengan resiko serius. Aku nggak ijinkan Mas melakukannya!".
"Imron sudah seperti adik kandungku sendiri, Dik. Itu bukanlah sesuatu yang ingin aku lakukan. Ini sesuatu yang harus aku lakukan. Apa kehidupanku akan tenang kalo aku mengingkari hak Imron untuk hidup?"
"Ini keputusan besar, Mas, yang melibatkan kita. Mas mempunyai keluarga sekarang dan tanggung jawab pada keluarga ini!"
"Dik .......", aku bicara dengan lembut, "aku sungguh-sungguh harus melakukannya"
"Aku nggak akan ijinkan Mas melakukan hal itu. Aku nggak bisa membiarkan Mas mengambil resiko besar!" Dia mengamuk keluar ruangan, matanya sedingin es, dagunya menunjukkan ketetapan hati.
Sebagian dari diriku ingin luluh pada permintaannya dan mengabulkannya. Aku tidak dapat menyalahkannya ..... "Maaf, tetapi seperti yang kamu ketahui, istrimu sebentar lagi akan melahirkan dan dia tidak mengijinkanmu untuk ........" lamunku. Tetapi bagian lain dari diriku tidak mau menerima skenario itu, malu.
Malam itu, aku menghempaskan diri di ranjang, dalam tidur yang tidak nyenyak, menderita sekali memikirkan apa yang harus dilakukan. Lantas aku bermimpi, di dalam mimpi aku mengunjungi Imron di rumah sakit.
Aku berjalan masuk, berusaha memasang wajah ceria sebelum masuk dan menyapa dengan bermuka dua, bersikap akrab, "Hei, bro, gimana kabarmu?"
"Hidup segan mati tak mau", Imron menjawab dengan getir, "ini bukan hidup, Mas Rudi ......... tidak bisa makan, hampir tidak boleh minum, bergantung hidup pada mesin selama berjam-jam, dan ketika prosedur yang kejam terlewati, aku malah merasa lebih buruk dari sebelumnya".
"Tapi .......", aku menyela, masih berusaha menunjukkan keceriaan palsu. "Paling nggak prosedur ini bisa buat kamu bergerak dan kamu bebas!"
"Yah, bebas!" Imron menjawab masam. "Bebas untuk pergi dari satu dialisis ke dialisis yang lain". Dia memberi isyarat ke arah kabel-kabel yang menghubungkan dirinya dengan mesin. "Aku berumur 25 tahun dan aku terpenjara disini!"
"Imron ....", aku berkata tanpa daya, "apa yang bisa aku lakukan?"
"Aku nggak bisa hidup seperti ini terus, Mas Rudi. Tolong bantu aku!", Imron menangis.
Aku bangun dengan keringat basah.
Aku berketetapan hati, tanpa memperdulikan kemarahan istriku dan perasaan takutku, untuk mendonorkan ginjal.
Ketika aku didorong ke dalam ruang operasi, dokter disisiku berbisik memberi semangat. "Anda berada di tangan-tangan yang ahli, Pak Rudi", dia berkata. "Anda telah membuat keputusan yang sepadan".
Esok paginya, aku bangun dengan kepala pusing dan melihat seorang dokter berdiri di sisi tempat tidurku.
"Selamat pagi, Pak Rudi!", dia berkata ceria. "Bagaimana perasaan anda ..... selain ketidaknyamanan normal setelah operasi?"
"Dok", aku merintih, "saya nggak tahu bagaimanakah yang normal itu, tapi saya cukup yakin kalo saya sangat kesakitan"
"Yaa ....... begini .......", sesaat dia sedikit ragu-ragu. "Saya harus memberitahu anda bahwa terjadi sesuatu yang tidak terduga terjadi selama operasi ....."
"Apa yang terjadi sama Imron?", aku bertanya cemas.
"Dia masih di dialisis, tapi jangan kuatir, kami masih memiliki donor lain untuknya"
Aku memandang dokter dengan bingung.
"Pak Rudi ....", dia memulai dengan pelan, saya sangsi anda pernah mendengar
renal cell carcinoma". Aku menggelengkan kepala. "Itu adalah suatu bentuk tak tersembuhkan dari kanker", dia melanjutkan "pada hakekatnya selalu fatal"
"Apa maksud anda Imron .......", aku bertanya dengan senewen, jantungku berdebar, bahkan ketika dokter itu menyelaku di tengah-tengah kalimat.
"Tidak, Pak Imron, dia selamat ...... begitu juga anda. Hasil
ultrasound anda menunjukkan dua ginjal yang sehat. Salah satu dari keduanya akan menyelamatkan saudara sepupu anda. Dan sewenang-wenang ............ demikian kami pikir ...... untuk menentukan yang mana yang kami pilih dari ginjal anda. Yang kami tahu, tangan-tangan kami dibimbing ke ginjal yang tepat ......... karena, Pak Rudi, sekali kami mengangkat ginjal kiri anda, mata telanjang kami mampu melihat apa yang tidak mampu ditunjukkan oleh
ultrasound. Pada korteks ginjal kiri anda terdapat sebuah bintil kecil, bintil dari
renal cell carcinoma. Jika anda memilih untuk tidak mendonorkan ginjal pada saudara sepupu anda, anda dapat meninggal dengan mudah dalam satu tahun dan jika ginjal itu tidak diperiksa sebagaimana mestinya, Pak Imron pasti telah meninggal karena kanker anda ...."
Aku terbengong mendengar penjelasan dokter.
"Pak Rudi, niat anda benar-benar sangat mulia. Anda berpikir anda menyelamatkan hidup saudara sepupu anda, tetapi itu berbalik, teman, Pak Imron-lah yang menyelamatkan hidup anda"