Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni ?

Posted by Monsign Senin, 26 Januari 2009 0 komentar


"Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni nanti?", kata Robi dengan sungkan-sungkan.

"Cukup dengan nyawa-mu", kataku membalas. Kami berdua pun tersenyum dengan jawabanku yang tentu saja cuma bercanda.

Aku dan Robi sudah bersahabat sejak kecil. Robi sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri, meski sebenarnya usia kita sama. Aku dianugrahi tubuh yang tinggi atletis, orang tua yang kaya, dan keberanian lebih. Berbeda dengan Robi, dia berasal dari keluarga kurang mampu, ayahnya sudah meninggal, ibunya bekerja sebagai pembantu dirumahku, dia orang yang lemah, dan orang yang penakut. Karena itulah aku sering melindunginya dari orang-orang yang berusaha memanfaatkan kelemahannya.

"Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni nanti?"

Kata-kata itu selalu terucap dari mulut Robi setiap kali dia merasa terselamatkan hidupnya karena keberadaanku. Entah sudah seberapa sering kata-kata itu terucap.

"cukup dengan nyawa-mu"

Dan candaan yang sama pun selalu terucap dari mulutku.

Saat ini, setelah kita berdua lulus kuliah, Robi mendapat tawaran pekerjaan di kota Yogjakarta. Pekerjaan yang cukup bagus untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, meskipun sebenarnya orangtuanya sudah cukup nyaman tinggal dirumahku sebagai pembantu. Awalnya aku kurang setuju dia pergi keluar kota, tapi dia tetap bersikeras untuk mengambil pekerjaan itu.

"Aku nggak bisa ngerepotin Mas Joni terus-terusan, aku mo nyoba hidup mandiri mas, tapi sebelumnya ....... aku minjem uangnya ya mas buat ongkos hidup sebulan disana, ntar aku cicil dengan gajiku", kata Robi sambil sungkan-sungkan.

Mendengar ketetapan hatinya itu, aku gak bisa menghalang-halangi keinginannya. Aku pun memberinya uang yang cukup untuk ongkos hidupnya selama sebulan di sana.

Kami pun tetap saling berhubungan melalui telepon dan sms. Kadang aku pun maen ke sana kalo lagi liburan, Robi sebulan sekali pulang untuk menemui orang tuanya. Kalo dia mo balik ke Yogjakarta, biasanya aku antarin sampai ke Yogjakarta. Kita pun punya rute khusus yang biasa kita lewati dan kita anggap rute itulah jalan paling cepat sampai ke Yogjakarta. Rute itu bukan jalan raya propensi yang menghubungkan antar kota, tapi rute ini cukup kami kenal.

Semakin lama kami pun mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Aku yang sekarang diberi tanggungjawab lebih oleh orangtuaku untuk mengurus perusahaan keluargaku, akhirnya semakin sulit meluangkan waktu untuk berlibur. Aku mulai kesulitan untuk melakukan perjalanan ke Yogjakarta bersama Robi lagi. Tapi Robi memaklumi kesibukanku. Saat ini, dia sudah mempunyai mobil bekas dari hasil pekerjaannya yang dipergunakannya untuk pulang dan balik ke Yogjakarta.

"Mas Joni, sekarang lagi capek?", sapa Bi Aminah. Bi Aminah adalah ibunya Robi. Beliau menyapaku ketika aku keluar dari garasi mobil, dan beliau terlihat agak resah.

"Kenapa Bi Aminah, kok kayak orang bingung?", tanyaku heran.

"Sudah seminggu lebih Robi gak ngasih kabar ke Bibi, apa Robi sempat menghubungi Mas Joni?", tanya beliau semakin gusar.

Aku terdiam.

"Kok tumben dia ga ngasih kabar Bi, biar Joni telepon sekarang ya Bi", aku pun mengambil HP dan menghubungi Robi. Tapi yang terdengar adalah nada peringatan bahwa nomor yang dituju tidak aktif. "Kok gak aktif ya Bi?"

"Iya mas, udah seminggu ini HP-nya gak aktif, Bibi jadi kuatir, perasaan Bibi gak enak sejak Robi balik ke Jogja minggu lalu", jawab beliau semakin cemas.

"Tenang Bi, pasti Robi baik-baik aja", jawabku berusaha menenangkan.

Sebenarnya aku pun merasa ada sesuatu yang mengganjal dihati, dan perasaanku mulai cemas juga. Entah kenapa seketika itu juga dikepalaku timbul ide untuk pergi ke Yogjakarta menemui Robi. Keinginan pergi ke Yogjakarta itu semakin kuat ketika makan aku menjatuhkan gelas hingga pecah. Perasaanku semakin cemas, tapi aku berusaha menutupinya di depan Bi Aminah.

"Bi, barusan aku nyoba lagi telpon HP-nya, tapi tetep gak aktif, aku mo berangkat ke Jogja aja Bi sekarang, aku sudah batalin semua janji di kantor besok", kataku berusaha menutupi rasa cemasku.

"Aduh Mas Joni, kalo berangkat sekarang nanti Mas Joni bakalan semalaman di jalan, Mas Joni kan sudah capek kerja seharian, besok aja mas berangkatnya", jawab beliau cemas.

"Gak pa-pa Bi, udah biasa, lagian yang penting sekarang itu Robi, aku juga jadi sedikit kuatir"

Aku pun berangkat ke Yogjakarta. Aku melewati rute yang biasa kami tempuh. Sepanjang perjalanan aku berusaha mencoba menghubungi Robi kembali, tapi jawabannya selalu sama, nomer tidak aktif.

Pukul sebelas malam, aku berhenti disebuah desa di sekitar daerah kota Magetan. Mataku kelelahan dan bermaksud untuk tidur sebentar. Namun tidak beberapa lama aku tertidur, aku dikejutkan dengan suara HP-ku. Aku lihat layar HP-ku untuk memastikan siapa yang menelepon.

Ternyata Robi.

"Halo, hei Rob, kamu kenapa!? kok gak ada kabar seminggu ini, nomermu gak aktif lagi, Bibi kuatir di rumah tuh!!", cerocosku dengan nada kesal.

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik.

"Maafin Robi ya mas, Mas Joni ada dimana sekarang?", jawabnya dengan nada yang sedikit berat.

"Enak aja maaf, kamu tuh udah bikin kuatir orang tau!! Aku dalam perjalanan mo ketempatmu, sekarang masih sampe di desa biasa kita ngopi itu", kataku masih kesal.

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik lagi.

"Mas, lima kilometer lagi dari sana ada pertigaan, kalo disana Mas Joni melihat seorang wanita hamil yang melambaikan tangan dipinggir jalan, Mas Joni jangan berhenti yah, terus aja jalan dengan kecepatan tinggi", katanya lagi dengan nada yang cukup berat kali ini.

"Heh, apa maksud kamu, di rute yang gak umum ini jalanannya kan sepi, mana mungkin ada wanita hamil dipinggir jalan ......halo.....halo......", sebelum aku meneruskan ucapanku, telponnya sudah terputus. Aku coba telpon balik, kembali nada peringatan tidak aktif, ini kejadian yang aneh.

Akhirnya, karena mataku sudah agak segaran, aku meneruskan perjalanan. Sepanjang perjalanan menuju pertigaan yang dimaksud Robi itu, kata-katanya terus terngiang-ngiang dipikiranku. "Apa maksudnya omongan Robi itu sih!?"

Tepat lima kilometer dari desa, di pertigaan yang dimaksud Robi, jantungku mulai berdebar-debar memikirkan kata-kata Robi. Mataku berusaha lebih waspada melihat kanan kiri jalan mencari wanita hamil yang dimaksud Robi dalam remang-remang cahaya jalanan.

Jarak 100 meter dari pertigaan, aku melihat sesosok wanita yang melambai-lambaikan tangan seperti berusaha memberi tanda untuk meminta tumpangan. Jantungku semakin berdetak kenjang,"apa ini wanita yang dimaksud Robi?".

Setelah mobilku semakin mendekati wanita tersebut, ternyata benar, dia wanita hamil. Seketika aku teringat pesan Robi, aku menambah kecepatanku dan meninggalkan wanita hamil itu. Setelah berjarak beberapa meter, aku berusaha melihat ke belakang melalui kaca spion. Aku terkejut, meskipun tidak begitu jelas melalui kaca spion, tapi dapat aku pastikan kalo wanita hamil itu tidak sendirian lagi, seperti ada beberapa pria yang tiba-tiba muncul sambil melemparkan batu ke arah mobilku, sepertinya mereka pun membawa semacam senjata tajam. Kaca belakang mobilku retak terkena lemparan batu.

Jantungku pun semakin berdebar-debar, dengan perasaan takut, aku menambah kecepatanku lagi berusaha meninggalkan tempat itu secepat dan sejauh mungkin.

"Apa mereka kawanan perampok?", pikirku.

Dalam keadaan belum tenang itu, aku terus menambah kecepatanku sambil sekali-sekali melihat ke arah belakang melalui kaca spion. "Ternyata mereka gak mengejar", bisikku dalam hati.

Tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh suara HP-ku. Dari Robi!!!

"Halo Rob, wanita hamil itu rampok yah !??", tanyaku tergesa-gesa.

"Mas Joni gak apa-apa!?", tanyanya balik masih dengan nada berat.

"Iya gak apa-apa, keliatannya mereka gak ngejar aku"

"Syukurlah....... Mas Joni gak ngalami kejadian seperti aku", katanya lega tapi masih dengan nada yang berat.

"Iya, tapi ..........", aku menghentikan ucapanku sesaat, aku sedikit terkejut dengan ucapan Robi barusan. "Kamu .........!?"

Kami berdua sama-sama terdiam membisu.

"Mas Joni......... Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni.....", kata Robi tiba-tiba.

Aku masih terdiam, menunggu apa yang akan diucapkan Robi selanjutnya.

"Mungkin memang harus dengan nyawa-ku ya mas", katanya seperti sambil menangis.

Aku terasa seperti disambar petir mendengar ucapan itu, tapi aku gak bisa mengucapkan kata apa-apa, cuma tanganku berusaha mengemudikan mobil agar tetap dijalurnya. Sesaat kemudian, hubungan terputus, dan aku sama sekali gak bisa berpikir untuk meneleponnya kembali.

Aku terus berjalan sampai pada kota terdekat untuk mencari kantor polisi. Aku laporkan kejadian yang aku alami. Laporanku ternyata ditanggapi dengan cepat oleh polisi, karena polisi pun saat ini sedang giat-giatnya memberantas kasus perampokan di jalanan. Beberapa jam kemudian, entah bagaimana cara kerja polisi yang begitu menakjubkan, aku mendapat kabar dari kepolisian bahwa kawanan perampok itu telah tertangkap. Dan yang paling membuatku terpukul, kawanan perampok itu mengakui selalu membunuh para korbannya, dipastikan Robi adalah salah satu korbannya.

Sampai saat ini, aku masih belum mengerti, Robi terbunuh seminggu sebelum kejadian malam itu, tapi kenapa dia bisa menghubungiku di malam kejadian itu. Apa karena arwahnya masih penasaran karena hutang budi sama aku? trus dia berusaha melakukan kontak dengan aku. Benar-benar sulit dipahami.

Yang jelas ucapannya sampai saat terakhirnya berhubungan denganku masih tetap saja sama.

"Aku gak tau gimana harus membalas kebaikan Mas Joni?"

Baca Selengkapnya ....
Template by Cara Membuat Email | Copyright of My Sunset.