1 liter Bensin Untuk Kebaikan
Kamis, 13 Maret 2014
0
komentar
Ardi melihat heran dengan pemandangan yang ada didepannya. Ardi melihat seorang wanita paruh baya sedang mendorong motornya di pinggir jalan. Tapi Ardi saat itu sedang terburu-buru melaju dengan motornya untuk memenuhi jadwal ujian skripsinya. Ardi hanya mengamati dengan sekilas kondisi ban motor itu dalam keadaan normal.
"Ah, paling juga kehabisan bensin", pikirnya. Ardi pun melewati wanita paruh baya itu tanpa mengurangi kecepatan motornya. Namun, hatinya tiba-tiba merasa iba ketika Ardi melihat melalui kaca spion, wanita paruh baya itu dengan susah payahnya mendorong motornya. Ardi teringat akan ibunya di kampung halaman.
"Pom bensin kan masih jauh dari sini, Ibu itu pasti kecapekan nanti", kata hati Ardi. Meski sebagian hati Ardi mengatakan untuk tidak mempedulikan wanita paruh baya itu dan mementingkan urusan pribadinya dulu, ternyata rasa ibanya kepada orang lain lebih besar dari pada perasaan egoisnya.
Ardi pun memperlambat motornya dan berbalik arah menghampiri wanita paruh baya itu.
"Ibu, ada yang bisa saya bantu", sapa Ardi.
Wanita paruh baya itu pun melihat dengan perasaan lega setelah ada orang yang peduli dengannya, "kehabisan bensin nak ....", jawabnya.
Ardi pun melihat-lihat sekitar berharap matanya menemukan pedagang bensin eceran di sekitar situ. Padahal, jalanan itu sangat ramai, namun tidak ada seorang pun disana yang berpikir untuk mengais rejeki menjadi pedagang bensin eceran.
"Ibu tunggu di sini ya, saya carikan bensin dulu nanti saya kembali ...", tegas Ardi.
Tanpa pikir panjang Ardi melaju motornya dengan kecepatan tinggi untuk mencari pedagang bensin eceran terdekat. Ardi berharap juga dia masih sempat bemenuhi jadwal ujian skripsinya tanpa telat. Namun harapannya itu berubah menjadi kecemasan setelah Ardi melaju motornya cukup jauh belum ketemu juga pedagang bensin eceran. Sempat terpikir olehnya untuk mengingkari saja janjinya kepada wanita paruh baya itu dan mementingkan urusan pribadinya lebih dulu, namun niat itu seketika Ardi urungkan setelah Ardi melihat pedagang bensin eceran di depannya.
Ardi pun segera memesan 1 liter bensin kepada pedagang bensin eceran itu. Namun yang menjadi masalah lagi, Ardi lupa jika uang di dompetnya hanya tinggal 5 ribu rupiah saja, hanya cukup untuk membeli 1 liter bensin aja, setelah itu dompetnya kosong melompong.
"Apa uang ini nanti diganti ya ...", pikirnya, "... ah sudahlah, nanti aku minta ganti aja ke Ibu itu, kan itu hak ku, kalo uang ini habis aku bisa ga makan hari ini ..."
Ardi pun kembali kepada wanita paruh baya tadi. Ardi sadar bahwa harapannya untuk memenuhi jadwal ujian skripsinya tanpa telat sudah tidak mungkin lagi, namun rasa cemasnya itu sedikit terbayar dengan senyum lega wanita paruh baya itu yang menyambut kedatangan Ardi.
Ardi pun segera menuangkan bensin ke motor wanita paruh baya itu dan membantunya menyalakan motornya.
"Nah, sudah Ibu ..", kata Ardi.
Ardi berharap wanita paruh baya itu sadar dengan sendirinya bahwa uang yang di pakai untuk membeli bensin tadi adalah uang milik Ardi. Ardi menunggu reaksi dari wanita paruh baya itu mengembalikan uang miliknya, namun setelah beberapa saat reaksi yang di tunggu itu kok tidak muncul-muncul juga.
Wanita paruh baya itu pun terlihat menunduk malu-malu sambil berusaha bicara dengan nada sungkan, "maaf ya nak, sebenarnya dompet Ibu juga ketinggalan di rumah ...."
"Haaaaaahhhhh .....", teriak Ardi dalam hati. Ardi sedikit dongkol dengan apa yang dialaminya ini, namun karena kebaikan hatinya, Ardi berusaha menutupi kedongkolannya itu.
"Akh, ga apa-apa Ibu, saya ikhlas kok menolong, silakan ibu melanjutkan perjalanan dan hati-hati di jalan", kata Ardi berlagak sok pahlawan namun dalam hatinya Ardi menangis membayangkan hari ini perutnya bakal kelaparan.
Wanita paruh baya itu kagum dengan kebaikan Ardi. Setelah berterimakasih, wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan Ardi yang sebenarnya hatinya dalam keadaan kalut dengan apa yang akan menimpa dirinya selanjutnya.
Terang saja, Ardi terlambat memenuhi jadwal ujian skripsinya. Dosen penguji kecewa dengan ketidakdisiplinan Ardi, dan mereka tidak menerima alasan apapun. Ardi ditolak oleh dosen penguji untuk ujian skripsi dan ditangguhkan sampai jadwal ujian skripsi selanjutnya. Dunia Ardi pun terasa hancur saat itu.
Ardi merasa kecewa dengan keadaannya itu, terlebih lagi Ardi harus berpuasa hari itu karena uang di dompetnya sudah tidak ada lagi. Ardi pun mengutuk kesialannya hari itu, Ardi mengutuk wanita yang ditolongnya, Ardi mengutuk pedagang bensin eceran, dan Ardi mengutuk semua orang yang tidak peduli dengan kesusahan orang lain. Seandainya hari itu Ardi tidak menjadi orang yang baik hati, mungkin hidupnya lebih bahagia dari keadaannya sekarang.
Setelah beberapa bulan, akhirnya Ardi lulus kuliah. Memang perjalanan memperoleh gelar sarjananya itu tidak semulus yang Ardi pikirkan setelah dia di blacklist oleh dosen pengujinya terdahalu yang menganggap Ardi adalah orang yang tidak bertanggungjawab dan kurang disiplin. Namun perjuangannya untuk meyakinkan dosen punguji meski memakan waktu berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil.
Selanjutnya, setelah lulus kuliah, tantangan berikutnya adalah memasuki dunia kerja. Ternyata mencari pekerjaan itu tidak semudah yang ada di pikiran Ardi ketika kuliah dulu. Ardi harus bersaing dengan ribuan Sarjana di luar sana yang mempunyai tujuan yang sama dengannya. Telah beberapa kali Ardi mencoba memasuki perusahaan-perusahaan yang dilamarnya, namun kebanyakan dia gagal di tahap wawancara, entah mungkin Ardi kalah bersaing dengan sarjana-sarjana lain atau mungkin Ardi kurang cakap dalam melakukan wawancara yang mengesankan.
Suatu ketika Ardi kembali menghadiri tes wawancara kerja dengan salah satu perusahaan produksi multinasional yang cukup besar. Dia cukup heran ketika mununggu di ruang tunggu perusahaan itu. Biasanya undangan wawancara itu dihadiri oleh beberapa calon karyawan untuk kemudian di panggil satu per satu. Namun saat itu, Ardi hanya sendirian dan receptionist yang mengantarkan dia ke ruang tunggu itu sangat ramah dengan Ardi.
Setelah beberapa saat menunggu, Ardi pun di panggil memasuki ruang pimpinan untuk melakukan wawancara. Ardi memasuki ruangan, dia melihat sosok wanita karier di depannya berdiri di belakang mejanya dengan tersenyum mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Selamat Pagi, Ardi. Silakan duduk", sapa wanita itu dengan ramah.
"Pagi Ibu. Terima kasih", jawab Ardi dengan perasaan sedikit grogi.
"Saya senang kamu melamar di perusahaan ini ...", kata wanita itu, "perusahaan ini butuh orang yang baik seperti kamu ..."
Ardi sedikit bingung dengan perkataan wanita dihadapannya itu. Ardi berusaha mencerna apa yang didengarnya itu. "Kok Ibu ini tiba-tiba menyimpulkan aku ini orang baik .... ??", pikirnya.
Wanita itu tersenyum dan melanjutkan perkataannya, "Perusahaan yang saya bangun ini berkembang cukup pesat, bahkan diluar prediksi saya, ya, saya bersyukur perusahaan ini menjelma menjadi perusahaan yang besar sekarang dan ini membuat saya benar-benar sangat berterima kasih kepada Tuhan karena memberi saya kepercayaan dan kesempatan untuk mengelola perusahaan ini"
Ardi masih bingung berusaha mencerna kemana arah pembicaraan ini.
Wanita itu pun melanjutkan, "Sekarang saatnya lah saya membalas semua kebaikan-kebaikan Tuhan selama ini kepada Saya. Namun kebaikan apa pun yang saya lakukan, saya rasa tidak akan cukup untuk membalas semua anugerah-Nya"
Ardi masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan itu, "mohon maaf Ibu jika pertanyaan saya lancang, sebenarnya apa yang ingin Ibu sampaikan kepada saya ...."
Wanita itu menatap Ardi dengan penuh antusias, "Ardi, saya ingin menyumbangkan beberapa persen laba dari perusahaan ini untuk membantu anak-anak yang menderita Leukemia di Indonesia, untuk itu saya mendirikan yayasan yang akan menampung semua aktivitas dari kegiatan sosial dari perusahaan ini. Saya butuh seseorang untuk mengelola yayasan saya itu dan saya butuh orang yang baik"
Ardi masih tetap merasa bingung dengan arah pembicaraan ini .....
Wanita itu melanjutkan perkataannya dengan tatapan meyakinkan Ardi, "Saya butuh orang baik seperti kamu Ardi".
Ardi bengong dengan perkataan wanita di hadapannya itu. Pikirannya masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sini .....
"Mohon maaf Ibu, saya masih belum mengerti, bagaimana Ibu bisa menyimpulkan jika saya ini orang yang cukup pantas mengelola yayasan Ibu?", kata Ardi.
Wanita itu pun tersenyum puas mendengar pertanyaan Ardi itu.
"Kamu terima apa tidak tawaran ini?", lanjut wanita itu mengalihkan pembicaraan.
Ardi pun terkejut mendengar pertanyaan balik itu. Seluruh pembicaraan ini benar-benar di luar bayangan Ardi.
"Yaa .... saya terima Ibu ....", jawab Ardi sedikit ragu-ragu.
"Dengar Ardi, Saya tidak suka dengan orang yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan, jadi tolong jawab sekali lagi, kamu terima apa tidak tawaran ini?", timbal wanita itu dengan nada sedikit menggertak.
Kali ini, Ardi cukup tersentak mendengar ketegasan wanita di hadapannya itu. Ardi menarik nafas dalam-dalam meski masih dalam keadaan bingung, namun Ardi berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menetapkan keputusannya.
"Baik Ibu, Saya Terima Tawaran Ibu", kata Ardi kali ini dengan sangat tegas.
Wanita itu pun tersenyum senang, "Ok, Ardi terima kasih atas kerjasamanya, mulai besok kamu sudah mulai bisa bekerja di perusahaan ini, besok sekretaris saya yang akan menjelaskan semua pekerjaanmu. Sekarang, silakan beristirahat di rumah dan kita bertemu lagi besok"
Ardi masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, pikirannya masih terus berusaha keras mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dia berjalan menghampiri pintu keluar ruangan itu masih dengan rasa tidak percayanya.
"Oh iya Ardi, ....", tiba-tiba wanita itu memanggil Ardi kembali. Ardi berbalik memandang wanita itu dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ngomong-ngomong, terima kasih ya atas uang bensin yang waktu itu, Anak saya di rumah sakit untuk dirawat karena pingsan akibat penyakit Leukemia-nya, saya kembali ke rumah mengambil dompet untuk menebus obat di Apotik, untunglah berkat kamu, anak saya belum terlambat ditangani", wanita itu tersenyum penuh terima kasih.
Ardi kembali berdiri bengong dan masih terus berusaha mencerna kata-kata wanita di hadapannya itu. Setelah cukup lama berusaha berpikir, ingatan Ardi tersadar ketika dia mengutuk hari sialnya dulu saat ujian skripsi dan dia ingat kembali dengan sangat jelas wajah wanita yang ada dihadapannya itu.
Dalam hati pun Ardi berteriak mewakili keterkejutannya, "Haaaaaahhhh ...".
Baca Selengkapnya ....









