Apa Kamu Paham yang Terjadi Disini?
Selasa, 04 November 2008
0
komentar

"Ok! Ok! Kita udah di jalan kok, kita ketemu disana 1 jam lagi, semua udah disiapin kan ......... halo ......... halo ............ halo ........... !? sialan baterai HP-ku abis, tadi lupa ngisi ........", seorang pemuda sambil mengemudikan mobilnya dengan kencang mengumpat menyesali kebodohannya, "kamu yakin HP kamu ketinggalan, Dre?"
Pemuda lain yang duduk disebelah kursi kemudi dengan nada kecewa menjawab, "yeah, gitu deh, habisnya kita tadi keenakan tidur seh, jadinya buru-buru gini"
Mereka berdua adalah Rahmat dan Andre. Mereka sedang dalam perjalanan dari kota Jember menuju pantai Watu Ulo, salah satu objek wisata pantai selatan di daerah Jember, Jawa Timur, dengan hamparan pasir putih dan bukit berbatu yang indah dan menakjubkan. Mereka berencana bertemu dengan teman-teman sekantornya yang sudah berangkat duluan, dan mereka menanti saat-saat makan ikan bakar di tepi pantai, mandi di tepi pantai, dan menikmati weekend mereka.
Namun, saat mereka melintasi jalanan Jember - Watu Ulo, mereka terganggu oleh serangkaian kecelakaan, kegentingan, dan masalah-masalah yang tidak biasa. Mereka seolah-olah tidak akan pernah tiba di tujuan.
Pertama, ban kempis. Mereka menepi di bahu jalan dan mengganti ban dengan cepat. "Tidak apa-apa", kata Rahmat, "Hanya lewat 15 menit, kita masih akan tiba tepat waktu"
Kemudian, setelah beristirahat beberapa saat, mereka memutar kunci, tetapi mesin mobil tidak bisa menyala. Lampu kecil merah mulai sebentar-sebentar menyala pada panel dasbor, dan Andre yang duduk di samping kemudi mendesah, "aku khawatir akinya soak, harus mencari seseorang yang memiliki kabel. Aku sendiri tak punya".
Makan waktu setengah jam untuk mencari orang lain yang memiliki kabel.
Ketika aki sudah disetrum ulang, mereka mempercepat laju di jalanan yang cukup ramai untuk mengejar waktu yang hilang. "Gak bakalan ada polisi disekitar sini", Rahmat meyakinkan Andre yang gelisah. "Mereka kan kerjanya cuma di tengah kota aja".
Ternyata mobil mereka dihentikan oleh seorang polisi yang sepertinya tidak menyadari ketergesaan mereka.
Makan waktu yang sangat lama untuk menulis surat tilang.
"Kita sudah telat satu jam!", kata Andre dengan halus. "Mereka nggak bakalan nungguin kita, dan kita terancam dapetin tulang belulang ikan neh"
"Tenang", Rahmat menenangkan, "udah dekat kok, sebentar lagi kita sampai di daerah Ambulu, kalo udah lewat Perempatan Ambulu, tinggal beberapa menit aja kita udah ketemu sama temen-temen"
Tetapi belum juga sampai Perempatan Ambulu, mobil tiba-tiba terbatuk-batuk dan mesin mati.
Kedua orang itu saling memandang.
"Ada apa lagi !?", seru Andre.
"Aneh !?", Rahmat menggelengkan kepala tidak percaya.
Makan waktu satu jam lebih untuk mencari montir terdekat yang mau memeriksa keadaan mobil mereka.
"Dre, besok ingatkan aku untuk protes sama bengkel langgananku, kita lihat bagaimana ketidakbecusan mereka bekerja!!", kata Rahmat jengkel.
"Pasti tali kipasnya", kata si montir. "kayaknya ini lama mas, butuh dua jam lebih lah"
"Aku nyerah!!", pekik Andre. "Kamu percaya kesialan kita hari ini? setelah mobil diperbaiki, kita pulang!!".
"Aku bukan orang yang gampang menyerah", Rahmat berkata dengan keras kepala. "Watu ulo tinggal 20 menitan dari sini, aku nggak mau berbalik arah sekarang, kita udah dekat. Kita tetep kesana, tanggung, siapa tahu mereka masih nunggu kita, kita masih punya waktu dua jam sebelum matahari terbenam. Lihat saja nanti", Rahmat berjanji pada Andre dengan nada optimis.
Setelah mereka tiba, terlambat empat jam, di tempat pertemuan yang telah disetujui, tempat itu sepi.
"Hari ini menjengkelkan", kata Andre pada Rahmat, "perjalanan kita sia-sia!"
"Tolong .....!!!", mereka tiba-tiba mendengar suara wanita berteriak.
"Tolong ......... Anakku .........Tolong!!", suara itu terdengar kembali lebih nyaring.
Karena kaget, Rahmat dan Andre tidak bergerak, pandangan mereka terpusat pada seorang wanita yang menjerit sambil menangis menunjuk-nunjuk ke arah laut. Terlihat di antara riak-riak ombak dua orang anak yang tampak mulai kelelahan berjuang untuk menepi ke pantai karena terseret arus ombak.
Rahmat dan Andre segera berlari menerjang ombak. Mereka sering sekali berolahraga renang hampir tiap minggunya, bahkan mereka sering berlomba ke pantai dan menyelam. Mereka menarik keluar anak-anak itu. Melakukan pertolongan pertama, dan menyelamatkan keduanya.
Sang ibu segera memeluk kedua anaknya yang baru tersadar tersebut, pengunjung lain pun yang masih tersisa di pantai Watu Ulo, yang sebelumnya berada jauh dari lokasi kejadian, segera menuntun mereka ke tempat pengurus pantai untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Sesudah itu, Rahmat yang masih tergunjang berbalik kepada Andre, bertanya dengan suara bergetar, "Apa kamu paham apa yang terjadi disini, Dre !?"
"Iya, Mat", Andre menjawab dengan muram, "aku sangat paham"
"Jika kita tiba tepat waktu di tempat ini, sudah pasti anak-anak itu akan mati ........."
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Apa Kamu Paham yang Terjadi Disini?
Ditulis oleh Monsign
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://sunsetq.blogspot.com/2008/11/blog-post_04.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Monsign
Rating Blog 5 dari 5







0 komentar:
Posting Komentar